Sabtu, 20 Oktober 2007

PENDIDIKAN BISNIS

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Terdapat PERBEDAAN yang PRINSIPIL tentang "PENDIDIKAN BISNIS" yang diinginkan oleh masyarakat dengan "PENDIDIKAN BISNIS" yang dapat diselenggarakan oleh "M. A. Dani & Associates".
"PENDIDIKAN BISNIS" yang diinginkan oleh masyarakat adalah yang DALAM PENYELENGGARAANNYA LEBIH MEMENTINGKAN KEGUNAAN (MANFAAT) yang akan diperoleh dalam bentuk "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)", sedangkan TUJUANNYA yang tidak lain adalah "KEMAMPUAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)", bagaimanapun bentuk atau jadinya, adalah untuk DITERIMA dan DIIKUTI saja, sehingga BUKAN atau TIDAK DAPAT dan bahkan TIDAK PERLU untuk dijadikan ARAH/PEDOMAN dalam MENYELENGGARAKAN "PENDIDIKAN BISNIS" itu sendiri.
Sedangkan "PENDIDIKAN BISNIS" yang diselenggarakan oleh "M. A. Dani & Associates" LEBIH MEMENTINGKAN TUJUAN berupa "KEMAMPUAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)" untuk dijadikan ARAH/PEDOMAN dalam MENYELENGGARAKAN "PENDIDIKAN BISNIS" itu sendiri, sedangkan KEGUNAAN (MANFAAT) yang akan diperoleh sudah PASTI ada dan TIDAK HANYA dalam bentuk "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)" saja, akan tetapi juga dalam bentuk lainnya, tergantung dari UPAYA yang mengarah ke TUJUAN tersebut.
Bahkan "MEMENTINGKAN TUJUAN DARI PADA KEGUNAAN" seharusnya adalah prinsip yang seyogianya dipegang teguh dalam melakukan setiap PERBUATAN, termasuk segala perbuatan dalam rangka menjalankan usaha (bisnis), sehingga menjadi topik yang utama yang dibicarakan dalam "PENDIDIKAN BISNIS" yang diselenggarakan oleh "M. A. Dani & Associates".
Perbedaan "PENDIDIKAN BISNIS" yang BERTOLAK-BELAKANG tersebut menyebabkan "M. A. Dani & Associates" menghadapi KENDALA YANG SANGAT SERIUS dalam melaksanakannya.
Masyarakat sebetulnya menyadari bahwa "PENDIDIKAN BISNIS" SANGAT DIPERLUKAN dalam rangka upaya "PERBAIKAN NASIB BANGSA". Akan tetapi masyarakat hanya dapat menerima bentuk penyelenggaraannya yang sama seperti dalam Sistem Pendidikan Umum/Diknas, yaitu melalui "PROSES BELAJAR MENGAJAR".
Masyarakat TIDAK atau KURANG MENYADARI bahwa pada hakekatnya "PENDIDIKAN BISNIS" yang diinginkan oleh masyarakat seperti itu TIDAK ADA, sehingga TIDAK MUNGKIN DAPAT DILAKSANAKAN.
KESIMPULAN tersebut diperoleh sebagai hasil MEMPELAJARI SENDIRI tentang POLA-PIKIR DALAM MENJALANKAN USAHA (BISNIS) yang telah saya lakukan selama tidak kurang dari 40 (empat puluh) tahun, yang menunjukkan bahwa pada KENYATAANNYA terdapat 2 (dua) hal yang SANGAT PRINSIPIL, yaitu:
1) MENJALANKAN USAHA (BISNIS) TIDAK BISA DIJADIKAN "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN" YANG DAPAT DIAJARKAN
Dalam hal ini ada seorang Pengusaha yang mengatakan bahwa "MENJALANKAN USAHA (BISNIS) ITU TIDAK ADA SEKOLAHNYA".
Kenyataan ini menyebabkan para Pengusaha pada umumnya KESULITAN dalam mengajarkan PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS) kepada orang lain, walaupun kepada anak kandungnya sendiri. Namun KESULITAN tersebut ternyata kurang dapat diterima atau dianggap kurang masuk akal oleh masyarakat karena telah TERBUKTI bahwa dengan PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS) yang selama ini dimiliki, terlihat jelas bahwa seorang Pengusaha telah BERHASIL MENJALANKAN USAHA (BISNIS) dengan baik. Disamping itu masyarakat pada umumnya menganggap apabila seseorang telah berhasil melakukan sesuatu, maka SEHARUSNYA orang yang bersangkutan dapat mengajarkan caranya kepada orang lain.
Pokoknya dalam "Proses Belajar Mengajar" maka "Yang Mengajar" HARUS "SUPERIOR" (lebih menguasai) dari "Yang diajar" tentang "Ilmu Pengetahuan dan/atau Keterampilan".
Anggapan tersebut mengakibatkan ada seseorang yang baru sekali datang berkunjung ke tempat saya, akan tetapi terus merasa KECEWA setelah melihat kondisi saya yang TIDAK MENUNJUKKAN bahwa saya adalah seorang yang TELAH SUKSES MENJALANKAN USAHA (BISNIS), sehingga dianggapnya tidak masuk akal kalau saya dapat mengajarkan "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)" kepada orang lain.
Dapat dimaklumi bahwa setelah merasa SANGAT KECEWA karena "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)" ternyata TIDAK MUNGKIN akan diperoleh dari saya, maka akhirnya orang yang bersangkutan tidak pernah datang lagi.
2) "KEMAMPUAN MEJALANKAN USAHA (BISNIS)" SANGAT TERGANTUNG DARI TINGKAT "INTELIGENSI"
Pada umumnya orang TIDAK MENYADARI bahwa segala PERBUATAN/TINDAKAN yang akan dilakukan dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS) ternyata TIDAK TERGANTUNG kepada "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN" yang telah diperoleh dari Sistem Pendidikan Umum/Diknas (Pendidikan Formal), akan tetapi SANGAT TERGANTUNG kepada TINGKAT INTELIGENSI.
Oleh karena itu tidak heran setelah dimintai pendapatnya tentang suatu PERBUATAN/TINDAKAN yang akan dilakukan dalam menjalankan usaha (bisnis) kepada Pengusaha oleh seseorang dalam rangka "konsultasi", maka Pengusaha yang bersangkutan HANYA menyarankan agar LAKUKAN SAJA (JUST DO IT) kalau MEMANG ternyata PERLU (NEED) untuk dilakukan dan agar TIDAK MELAKUKAN suatu PERBUATAN/TINDAKAN kalau HANYA karena INGIN (WANT) melakukannya.
Akan tetapi ternyata TIDAK MUDAH untuk MEMBEDAKAN/MEMISAHKAN antara PERBUATAN/-TINDAKAN yang PERLU (NEED) DILAKUKAN dengan PERBUATAN/TINDAKAN yang INGIN (WANT) DILAKUKAN bila TINGKAT INTELIGENSI TIDAK MEMADAI.
Dengan demikian maka KEBERHASILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS) sangat tergantung dari TINGKAT INTELIGENSI , yaitu makin tinggi TINGKAT INTELIGENSI seseorang akan makin MUDAH bagi orang yang bersangkutan untuk menentukan suatu PERBUATAN/TINDAKAN yang PERLU (NEED) DILAKUKAN.
INTELIGENSI adalah KEMAMPUAN UNTUK MEMPELAJARI ATAU MEMAHAMI ATAU BERSIKAP TERHADAP SITUASI YANG BARU ATAU SULIT, sedangkan TINGKAT INTELIGENSI seseorang adalah PENGAKUAN yang diberikan ORANG LAIN terhadap INTELIGENSI orang yang bersangkutan.
Disamping itu, KEMUDAHAN dalam menentukan suatu PERBUATAN/TINDAKAN yang PERLU (NEED) DILAKUKAN juga tergantung dari SITUASI yang sedang dihadapi, sehingga SANGAT TIDAK MUDAH untuk menentukannya bilamana SITUASI yang sedang dihadapi SANGAT BARU (belum pernah terjadi sebelumnya) dan/atau tingkat KESULITAN dari SITUASI yang sedang dihadapi SANGAT TINGGI. Dengan kata lain seseorang hanya akan dapat berhasil dalam menghadapi suatu situasi, bila TINGKAT INTELIGENSI yang bersangkutan SEBANDING dengan SITUASI yang sedang dihadapinya.
Ada seseorang yang ternyata BERHASIL menghadapi segala situasi dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS), pada hal diketahui bahwa tingkat INTELIGENSI orang yang bersangkutan tidak begitu tinggi.
Sebaliknya ada seseorang yang ternyata BELUM BERHASIL atau MASIH KESULITAN dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS), pada hal diketahui bahwa tingkat INTELIGENSI orang yang bersangkutan cukup tinggi.
Ratio (perbandingan) antara tingkat INTELIGENSI seseorang dengan tingkat KESULITAN SITUASI yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan disebut tingkat REJEKI.
Bila ratio > 1 berarti REJEKI orang yang bersangkutan DIMUDAHKAN oleh ALLAH SUBHAANAHU WATA'ALA dan seyogianyalah orang yang bersangkutan BERSYUKUR.
Sedangkan bilamana ratio <>
Berapapun besarnya ratio tersebut adalah merupakan UJIAN terhadap setiap orang oleh ALLAH SUBHAANAHU WATA'ALA tentang kekuasaanNYA dalam MENENTUKAN REJEKI.
Saya sendiri, pada saat ini, masih sedang menghadapi SITUASI yang SANGAT BARU dan SANGAT SULIT dalam menjalankan usaha di bidang "PENDIDIKAN BISNIS". Saya tidak tahu apakah tingkat INTELIGENSI saya cukup memadai untuk menghadapinya, namun saya dapat merasakan bahwa tingkat INTELIGENSI saya BELUM SEBANDING dengan SITUASI BISNIS yang sedang saya hadapi.
Ketahuilah sebagaimana yang sering saya tulis bahwa Sistem Pendidikan Umum/Diknas hanya memacu untuk MENINGKATKAN PRESTASI, serta TIDAK MENDUKUNG untuk MENINGKATKAN INTELIGENSI.
Oleh karena itulah diperlukan sistem pendidikan yang lain untuk MENGIMBANGINYA yang saya namakan sistem "PENDIDIKAN BISNIS".
Prinsip "MEMENTINGKAN TUJUAN DARI KEGUNAAN", khususnya dalam menyelenggarakan "PENDIDIKAN BISNIS" adalah prinsip yang akan selalu dipegang teguh oleh "M. A. Dani & Associates", sehingga akan selalu KONSISTEN dengan prinsip tersebut dan sebagai konsekwensinya "M. A. Dani & Associates" TIDAK AKAN PERNAH MENGAJARKAN "ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU KETERAMPILAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS)" sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.
Dalam situasi yang demikian tidak ada yang dapat dilakukan oleh "M. A. Dani & Associates" selain menyadarkan masyarakat bahwa pendidikan yang diselenggarakan untuk memperoleh "Ilmu Pengetahuan dan Keterampilan" seperti dalam Sistem Pendidikan Umum/Diknas TIDAK MUNGKIN dan TIDAK DAPAT DIGUNAKAN untuk menumbuhkan KEMAMPUAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS) dalam diri seseorang.
Sebagaimana yang juga sering saya tulis bahwa TIDAK ADA PERSAMAANYA antara Sistem "PENDIDIKAN BISNIS" dengan Sistem Pendidikan Umum/Diknas, sehingga dengan demikian para tenaga pendidik dan pakar Pendidikan akan menemui KESULITAN untuk memahami apalagi untuk membicarakan tentang PERBEDAAN PRINSIP dalam Sistem "PENDIDIKAN BISNIS".
Bagi Anda yang merasa berminat untuk berpartisipasi dalam PENYELENGGARAAN "PENDIDIKAN BISNIS", baik sebagai PESERTA ataupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan datang ke alamat saya untuk membicarakan kemungkinannya.

Wassalam,
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Jumat, 05 Oktober 2007

Temen-temen, Jangan Pernah Berhenti Bersyukur..

From: Hadi Kuntoro
Sent: Friday, October 05, 2007 1:15 AM

Dear Action Member..
Dream atau Impian memang indah, dan ditangan motivator-motovator yang handal, lengkaplah sudah tekad kita atau motivasi kita apabila kata-katanya telah dirangkai dengan sedemikian indah, “Jangan Pernah Putus Asa Mengejar Impian Anda”.

Kata-kata ini begitu menyihir kita untuk bergerak-bergerak-bergerak…namun tetap saja ada kalanya bahan bakar semangat kita habis atau menipis, kendur, loyo, sebel, masa bodoh, menyalahkan orang,keadaan,stress,depressi…dan mulai muncul rasa bahwa “This Not my way…” ini bukan jalan saya.

Saya merasa jadi asing dengan apa yang saya lakukan saat ini. Kenapa saya memilih jalan ini…? Kenapa orang bisa berhasil..? kenapa saya sial terus…?
Apakah anda sering atau pernah atau bahkan sedang mengalami hal diatas ini..?

Kalau anda sudah merasa menderita karena persoalan2 diatas, berarti anda harus sudah mulai buru-buru untuk menancapkan tiang atau monument atau Milestone atau apalah...yang merupakan bahwa anda sudah mulai BERHASIL. Dan ini mungkin awal dari keberhasilan anda.

Bagai kita yang memiliki tubuh overweight, yang sedang berusaha untuk mengecilkan berat badan. Dari semua literatur dan saran para ahli berbagai media, yang paling cocok untuk menguruskan perut yang menonjol kian kemari adalah dengan olahraga lari secara teratur misalnya.

Hari pertama kita begitu semangat. 10 kilometer rasannya nggak mustahil akan dilahap pada kesempatan pertama itu. Kita mulai berlari…ternyata…betis anda terasa terpaku di tanah, paha anda pegel, keringat dingin malahan yang keluar atau bahkan keringat2 yang bikin gatal, nafas anda terburu seakan oksigen sudah begitu menipis, apalagi antara nafas dan langkah tidak kompak, kepala anda mulai berdenyut, satu putaran lapangan tennis seakan sudah cukup untuk meledakkan paru2 anda..dan terakhir otak anda berkata stop..! berhenti.! Dan akhirnya anda berhenti….sedih, belum juga 1 kilo…pengin lari lagi nggak kuat, esok harinya malah pegel, kesal dengan diri sendiri akhirnya malah jadi makan banyak2 karena stress dan menyalahkan diri sendiri atau kadang menyalahkan keadaaan....

Padahal yang harus dia lakukan pada hari pertama dia lari dan tidak kuat itu adalah....Alhamdulillah.... bersyukur..bersyukur..dan bersyukur...hari ini sudah bisa mulai berolah raga meskipun belum kuat lama, atas kesadaran sendiri, ditempat lain ada yang memulai seperti ini pada saat dia sudah mulai kena stroke ringan....dan esok harinya kita datang lagi ke arena dengan gagah, kita lari lagi dapatnya kok menurun hanya setengah putaran lapangan tennis..? itupun diakhiri dengan memegang lutut yang rasanya mau copot..? bersyukurlah...pas pulang timbangan malah naik, biarin saja, besok kita mulai lagi dan selalulah bersyukur..Insya Allah setelah 3-4 bulan segendut apapun tubuh anda anda akan bisa lari 6-8 km non stop..! Bahkan 1 km terakhir bisa Sprint.! hehe..ada kok yang mengalaminya...

Anda pebisnis yang biasa profitnya diatas 10 juta kok sekarang 5 juta saja susah, besyukurlah, temen yang lain ada yang profinya gak sampai 1 juta.
Biasanya profit 1 juta sebulan sekarang kok paspasan hanya bisa untuk bayar sewa dan karyawan saja? Bersyukurlah tdaers lainnya ada yang merugi lho..
Tiap bulan rugi dan nombok melulu..? Tetaplah bersyukur... karena anda sudah memulai, tdaers yang lain ada yang baru cari2 peluang, Stress...peluang banyak sekali..tapi nggak tahu mau ambil yang mana.? Syukurilah..karena ternyata mindset anda sudah mulai berubah..Insya Allah degan bersyukur anda akan dipilihkan pilihan terbaik.
Jangankan memilih peluang bisnis KEPINGIN SAJA TAKUT nanti kesengsem sementara modal dan nyali nggak ada, Bersyukurlah...karena ana saat ini sudah memiliki baynak temen2 di tda yang senantiasa akan berempati dgn anda, jangan malu,gengsi,dan semacamnya untuk menceritakan apa yang sedang anda alami saat ini..apalagi hal2 yang menyedihkan, kalau kita mau berbagi kadang malah cepet ilang sedihnya...
Temen sudah banyak, tapi melihat sharing2 mereka kita malah stress...? Apakah ada yang tidak berdaya begini..? Bersyukurlah...anda jauh lebih baik, nun jauh disana ada teman sekolah saya yang saat ini jadi guru dengan honor hanya 200ribu sebulan. Beberapa waktu lalu HP dia yang biasanya hanya untuk menerima panggilan saja, diam2 saya isi lewat M-Kios, dia begitu takjub karena 100rb yang saya isikan ini biasanya biaya pulsa dia 5 bulan...!

Jadi syukurilah apa yang anda sudah dapatkan saat ini, dan apabila rasa syukur itu digabungkan dengan dream2 kita yang indah, makan akan kita dapatkan kata2 yang memiliki power yang sangat dahsyat. Jangan memusingkan apa yang belum kita capai tapi coba periksalah apa2 yang sudah kita dapat, dan bersukurlah.

”Jangan Berhenti Mengejar Impian Anda, dan Syukurilah Terhadap Apapun yang Sudah Anda Capai Sampai Detik Ini”

Sering2lah mengucapkan Alhamdulillah...dan hayatilah makna "Bersukur" yang terkandung didalamnya dengan hati...niscaya anda akan dengan mudah menangis karena begitu banyak yang telah kita dapatkan....

Salam Hangat
Hadi Kuntoro
http://hadikuntoro.com
http://rajaselimut.com
http://mysajadah.com

Selasa, 02 Oktober 2007

KENAPA DIPERLUKAN "PENDIDIKAN" BISNIS

KENAPA DIPERLUKAN "PENDIDIKAN" BISNIS
Ada seorang Ustadz yang disamping menjadi seorang Tenaga Pengajar di sebuah Pesantren, dia juga bekerja sebagai Tenaga Peneliti Pendidikan Agama di Kedutaan Negara Arab.
Ustadz ini alumni sebuah Perguruan Tinggi Agama Islam di sebuah Negara Arab dan bisa ditebak kemungkinan besar adalah Negara Arab yang Kantor Kedutaannya adalah juga tempat dia bekerja sekarang.
Pada waktu ngobrol-ngobrol di atas Kereta Api dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, Ustadz ini sampai menanyakan tentang apa yang dimaksud dengan sistem pendidikan yang lain, yang dinamakan Sistem "Pendidikan" Bisnis itu, serta kenapa sistem pendidikan tersebut diperlukan PADAHAL sistem pendidikan yang SUDAH ADA dan SUDAH BERJALAN sampai sekarang SUDAH MENCAKUP SEMUA ILMU PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN yang diperlukan.
Sistem pendidikan yang sudah ada ini dinamakannya "Sistem Pendidikan FORMAL" yang juga digunakan/dijalankan di pesantren-pesantren.
Kepada sang Ustadz lalu dijelaskan bahwa Sistem "Pendidikan" Bisnis adalah sistem pendidikan tentang PEROBAHAN POLA-PIKIR dari pesertanya bahwa PERBUATAN yang PERLU atau SEHARUSNYA dilakukan adalah PERBUATAN yang apabila KEGUNAAN dari OBJEK yang diperlakukan SESUAI dengan TUJUAN (OBJECTIVE) melakukan PERBUATAN yang bersangkutan.
Kemudian untuk menjawab pertanyaannya dijelaskan serta DITEGASKAN bahwa Sistem "Pendidikan" Bisnis diperlukan karena PADA KENYATAANNYA "Sistem Pendidikan FORMAL" yang TERLIHAT serta DIJALANKAN dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini TIDAK MENDUKUNG agar terjadi PEROBAHAN POLA-PIKIR yang demikian.
Dapat diperkirakan sebelumnya bahwa sang Ustadz sebagai seorang TENAGA PENDIDIK dalam "Sistem Pendidikan FORMAL" PASTI TIDAK MENERIMA kalau dikatakan bahwa "Sistem Pendidikan FORMAL ternyata TIDAK MENDUKUNG agar terjadi PEROBAHAN POLA-PIKIR yang demikian".
Dikemukakannya bahwa Ilmu Pengetahuan yang menyangkut POLA-PIKIR, yang pernah diperolehnya di Perguruan Tinggi Agama Islam, dinamakan "ILMU HAKEKAT". Jadi katanya adalah tidak benar "Sistem Pendidikan FORMAL dikatakan TIDAK MENDUKUNG agar terjadi PEROBAHAN POLA-PIKIR". Menurutnya pengamalan suatu ilmu tergantung orang yang mengamalkannya.
Percuma untuk mempertanyakan kepadanya bahwa "ILMU HAKEKAT" pada KENYATAANNYA adalah ilmu yang "pada hakekatnya" mendalami "hakekat" dari beberapa PERBUATAN tertentu dan BUKAN mengupas tentang POLA-PIKIR yang akan mendasari setiap PERBUATAN.
Terlepas dari segi FAKTA atau KENYATAAN yang dapat dibuktikan sendiri, Ustadz ini serta para Tenaga Pendidik lainnya (guru/dosen) dan masyarakat umum TIDAK AKAN DAPAT MENERIMA bila ada yang MENGHUJAT "Sistem Pendidikan FORMAL" yang SEHARUSNYA DIUTAMAKAN dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, karena MAKIN TINGGI tingkat pendidikan yang dapat diselesaikan, MAKIN MENDAPAT TEMPAT YANG LEBIH TERHORMAT DALAM MASYARAKAT sebagai "ORANG YANG BERPENDIDIKAN" (punya embel-embel gelar kesarjanaan di depan atau dibelakang nama).
Hanya kemudian dicoba sedikit menambahkan/membelokkan pembicaraan bahwa PEROBAHAN POLA-PIKIR sudah PASTI akan MENIMBULKAN PEROBAHAN AKHLAK oleh karena setiap PERBUATAN yang dilakukan akan mencerminkan tingkatan AKHLAK dari pelakunya.
Karena tidak ada komentar, maka dicoba menambahkan lagi "HUJATAN" yang agak lebih "sopan" bahwa pada KENYATAANNYA "Sistem Pendidikan FORMAL" yang TERLIHAT serta dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini juga TIDAK MENDUKUNG agar terjadi PEROBAHAN AKHLAK pada anak-didik, sebagaimana yang diuraikan oleh Khatib dalam khotbah Shalat ‘Idul Adha yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 Desember 2006, atau 9 Dzulhijjah 1427H, di lapangan Mesjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Khatib menjelaskan bahwa "PENDIDIKAN AKHLAK" mempunyai CAKUPAN atau RUANG LINGKUP yang berbeda dengan SISTEM PENDIDIKAN UMUM/DIKNAS dan oleh karenanya TIDAK DAPAT DIBERIKAN melalui "Sistem Pendidikan FORMAL" yang dinamakan SISTEM "PENDIDIKAN UMUM/DIKNAS" yang telah berjalan sampai sekarang ini, sehingga HARUS diselenggarakan OLEH dan DI SETIAP RUMAH TANGGA.
Kali ini sang Ustadz hanya tersenyum dan senyumannya itu dapat ditebak artinya yaitu untuk mengatakan bahwa semua Ilmu Pengatahuan yang diajarkan di Pesantren adalah menyangkut AKHLAK dan bahwa pengamalan suatu ilmu tergantung orang yang mengamalkannya.
Yang jelas, "Pendidikan" Bisnis MEMANG dan HARUS diselenggarakan OLEH dan DI SETIAP RUMAH TANGGA dengan MELATIH DIRI SENDIRI menggunakan POLA-PIKIR yang telah dibicarakan di kelas.
Harus SEBANYAK MUNGKIN waktu yang dihabiskan diluar kelas untuk MELATIH DIRI SENDIRI menggunakan POLA-PIKIR yang telah dibicarakan di kelas, sedangkan hanya memerlukan waktu selama 1-2 jam dalam seminggu untuk membicarakan topik-topik yang menyangkut POLA-PIKIR tersebut dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan di kelas.
Pernyataan dari sang Ustadz tentang PERBUATAN ("pengamalan dari suatu ilmu") bahwa "pengamalan suatu ilmu tergantung orang yang mengamalkannya" merupakan BUKTI bahwa ILMU PENGETAHUAN dan/atau KETERAMPILAN adalah satu hal dalam HIDUP dan KEHIDUPAN ini, sedangkan PERBUATAN adalah hal lainnya yang TIDAK HARUS ada kaitannya, karena "tergantung orangnya".
Itulah sebabnya POLA-PIKIR yang dijadikan dasar melakukan setiap PERBUATAN selalu kami katakan BUKAN merupakan ILMU PENGETAHUAN dan/atau KETERAMPILAN.
POLA-PIKIR tidak dapat DIAJARKAN, akan tetapi dapat DITUMBUHKAN dengan MEMBICARAKAN topik-topik yang berhubungan dengan POLA-PIKIR yang bersangkutan.
Disamping itu MASYARAKAT perlu disadarkan bahwa "PENDIDIKAN UMUM/DIKNAS" BUKANLAH SEGALA-GALANYA atau SATU-SATUNYA SISTEM PENDIDIKAN, akan tetapi JUGA DIPERLUKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG LAIN yang dinamakan SISTEM "PENDIDIKAN" BISNIS dalam rangka untuk 'MEMPERBAIKI NASIB BANGSA INI".
Bila Anda merasa tertarik dan berminat untuk ikut berpartisipasi, baik sebagai peserta "PENDIDIKAN" BISNIS maupun untuk menjadi ASSOCIATE yang akan menyebar-luaskan POLA-PIKIR yang "lebih mementingkan TUJUAN dari pada KEGUNAAN", silahkan menghubungi kami, atau akan lebih baik bila datang ke alamat kami untuk membicarakannya.
***
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan & Pelatihan Manajemen Bisnis (Business Management Consultancy & Education/Training Services)
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541, E-mail muchtid@cbn.net.id
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"

Minggu, 30 September 2007

Pengusaha (Business Owner)

Pengusaha (Business Owner)

BUKANLAH PEKERJA

PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) BUKANLAH PEKERJA, akan tetapi seseorang yang membangun/menyusun suatu "SISTEM BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya sehingga "SISTEM BISNIS" itulah yang akan BEKERJA UNTUKNYA, dengan pengertian:

  1. "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf hidup bagi pemakainya.
  2. Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga penyusunannya tidak lain adalah penciptaan lapangan kerja untuk para TENAGA PROFESIONAL.
  3. "SISTEM BISNIS" diserahkan kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN) untuk menjalankannya yang dibantu oleh TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan, serta kemudian yang akan menentukan cara melaksanakannya (how to do).
  4. Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
    1. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
    2. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
    3. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri (self-employed);
    4. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam bentuk pendapatan/uang.

Kenyataan menunjukkan bahwa Sistem Pendidikan Umum/Diknas, sengaja atau tidak disengaja, adalah hanya untuk menghasilkan TENAGA PROFESIONAL, sehingga diperlukan Sistem “Pendidikan” yang lain untuk menumbuhkan PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), yang kami namakan Sistem “Pendidikan’ Bisnis.

"PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" tentang "akal-sehat/pikiran-jernih" yang akan membentuk "pola-pikir" yang selanjutnya akan menentukan "tindakan/perilaku/-perbuatan".

"Akal-sehat/pikiran-jernih" adalah AKAL/PIKIRAN/NALAR/-LOGIKA yang tidak dipengaruhi oleh KEINGINAN, akan tetapi yang ditunjang oleh KALBU/HATI-NURANI.

Sedangkan pada dasarnya "akal-sehat/pikiran-jernih", "pola-pikir" dan "tindakan/perilaku/perbuatan" BUKANLAH merupakan "ilmu pengetahuan atau keterampilan" seperti yang didapatkan di SEKOLAH (sekolah dasar sampai perguruan tinggi dalam Sistem Pendidikan Umum/Diknas, termasuk kursus/training/workshop), sehingga "PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" dalam "tanda kutip", BUKAN SEKOLAH.

Kami berdedikasi untuk menyelenggarakan “Pendidikan” Bisnis tersebut. Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI, baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih lanjut.

"M. A. Dani & Associates"


Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis

BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl.
Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Senin, 24 September 2007

Kemrdaekaan yang cacat


TUJUAN berbangsa dan bernegara katanya adalah "Berbangsa dan Bernegara yang ADIL dan MAKMUR".
Pencapaian TUJUAN tersebut SEHARUSNYA merupakan PROSES yang berlangsung sepanjang masa sehingga "hari ini lebih ADIL dan MAKMUR dari hari kemarin dan hari esok lebih ADIL dan MAKMUR dari hari ini".
Dua hal pokok yang harus DIFUNGSIKAN agar PROSES Pencapaian TUJUAN tersebut berjalan adalah: 1) Merebut KEMERDEKAAN dari tangan penjajah dan 2) Membentuk PEMERINTAHAN dengan segala perangkat yang diperlukan.
Untuk hal pokok yang pertama para pejuang Kermerdekaan kita telah berhasil merebut KEMERDEKAAN dari tangan penjajah, sehingga telah berada dalam genggaman kita sampai sekarang.
Namun ketahuilah bahwa KEMERDEKAAN yang sudah dalam genggaman ini, dulu direbut oleh para Pejuang Kemerdekaan kita dari tangan penjajah dengan cara KEKERASAN, sampai-sampai mengorbankan jiwa-raganya.
Sesuatu yang direbut dengan cara KEKERASAN akan sedikit-banyaknya menimbulkan CACAT. Demikian juga dengan KEMERDEKAAN yang sudah dalam genggaman ini, sehingga tidak dapat DIFUNGSIKAN begitu saja dalam PROSES Pencapaian TUJUAN sebelum DIPERBAIKI terlebih dahulu.
Ternyata KEMERDEKAAN yang sudah 62 tahun dalam genggaman ini mengandung CACAT yang SANGAT PARAH, yaitu sampai-sampai telah "BERUBAH BENTUK" menjadi "KEBEBASAN berbuat apa saja berdasarkan KEGUNAAN dari segala sesuatu yang DISUKAI, TANPA PEDULI dengan TUJUAN Berbangsa dan Bernegara yang ADIL dan MAKMUR".
Lalu bagaimana dengan hal pokok yang kedua? Apakah PEMERINTAHAN yang sudah terbentuk sudah dapat DIFUNGSIKAN agar PROSES Pencapaian TUJUAN "Berbangsa dan Bernegara yang ADIL dan MAKMUR" berjalan DENGAN BAIK?
Memperbaiki CACAT yang terdapat pada KEMERDEKAAN yang sudah di tangan ini tidak lain adalah dengan MERUBAH POLA-PIKIR dari "mementingkan KEGUNAAN dari TUJUAN" menjadi SEBALIKNYA yaitu "mementingkan TUJUAN dari KEGUNAAN".
Oleh karena itu DARI SEKARANG HARUS SEBANYAK MUNGKIN anak bangsa ini yang MAU MERUBAH POLA-PIKIR dari "mementingkan KEGUNAAN dari TUJUAN" menjadi SEBALIKNYA yaitu "lebih mementingkan TUJUAN dari pada KEGUNAAN" dalam menjalani HIDUP DAN KEHIDUPAN ini, sehingga akan PEDULI dengan TUJUAN "BERBANGSA DAN BERNEGARA".
Ketahuilah bahwa "PENDIDIKAN UMUM/DIKNAS" tidak dimaksudkan untuk MERUBAH POLA-PIKIR yang demikian. DIPERLUKAN SISTEM PENDIDIKAN YANG LAIN yang dinamakan SISTEM "PENDIDIKAN" BISNIS dalam rangka untuk 'MEMPERBAIKI NASIB BANGSA INI".
Bila Anda merasa tertarik dan berminat untuk ikut berpartisipasi, baik sebagai peserta "PENDIDIKAN" BISNIS maupun untuk menjadi ASSOCIATE yang akan menyebar-luaskan POLA-PIKIR yang "lebih mementingkan TUJUAN dari pada KEGUNAAN", silahkan menghubungi kami, atau akan lebih baik bila datang ke alamat kami untuk membicarakannya.

M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan & Pelatihan Manajemen Bisnis (Business Management Consultancy & Education/Training Services)
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541, E-mail muchtid@cbn.net.id
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"

Bangsa ini kekurangan Pengusaha (Business Owner)


Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, sekali lagi kami ingatkan bahwa bangsa ini kekurangan Pengusaha (Business Owner).
Diperlukan kembali sifat KEGOTONG-ROYONGAN bangsa ini untuk MENUMBUHKANNYA.
Pengusaha (Business Owner) yaitu seseorang yang membangun/menyusun suatu "SISTEM BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk melaksanakannya, dengan pengertian:
1) "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2) Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga penyusunannya tidak lain adalah penciptaan lapangan kerja bagi para TENAGA PROFESIONAL yang kemudian akan menentukan cara melaksanakannya (how to do).
3) Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri (seff-employed);
d. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam bentuk pendapatan/uang.
Harus SEBANYAK MUNGKIN diantara generasi yang akan datang MENJADI PENGUSAHA (BUSINESS OWNER).
Bahkan bila seorang Pengusaha (Business Owner) kemudian menjadi Investor maka yang bersangkutan adalah "the real investor".
Jadi bangsa ini tidak hanya kekurangan Pengusaha (Business Owner), akan tetapi juga SANGAT kekurangan Investor.
Oleh karena itu jangan biarkan sampai Investor Asing yang menggarap kekayaan tanah air kita ini, sementara SEMUA anak keturunan kita, generasi penerus, hanya menjadi PEKERJA/PROFESIONAL yang kemudian bekerja untuk kepentingan Investor Asing, atau dengan kata lain (maaf) menjadi "KULI" bangsa asing.
Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang TIDAK MENDUKUNG untuk menumbuhkan Pengusaha (Business Owner) yang dimaksud diatas, sehingga diperlukan lagi Sistem "Pendidikan" (dalam tanda kutip) yang lain yang kami namakan Sistem "Pendidikan Bisnis".
Disebut Sistem "Pendidikan" (dalam tanda kutip) oleh karena "Pendidikan Bisnis" BUKAN SEKOLAH seperti dalam Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang.
Berikanlah PILIHAN kepada anak keturunan kita, generasi penerus, untuk mengikuti "Pendidikan Bisnis" yang kami selenggarakan, ketimbang meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan biaya yang tidak sedikit.
Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI, BERGOTONG-ROYONG dalam upaya menumbuhkan Pengusaha (Business Owner), atau kami sebut juga "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS", baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih lanjut.
"Menjalankan usaha (bisnis) TIDAK ADA SEKOLAHNYA", kata para pengusaha pada umumnya.
Suatu kenyataan yang sulit untuk diterima umumnya oleh para pakar pendidikan, apalagi oleh anggota masyarakat pada umumnya.
Bila Anda mengikuti suatu pendidikan (sekolah/kulia/training/workshop) maka Anda akan DIAJARI suatu PENGETAHUAN dan/atau KETERAMPILAN melalui "proses belajar mengajar" oleh seseorang yang dianggap ahlinya (guru/dosen/pelatih/instruktur).
Selama mengikuti suatu pendidikan Anda harus menerima (PASIF) semua yang diajarkan, untuk kemudian kalau perlu menghafalnya dan terutama menguasainya dengan cara berlatih mengerjakan soal-soal dan "PR".
Konsekwensinya, sadar atau tidak sadar, PIKIRAN/NALAR/LOGIKA menjadi PASIF, artinya harus ada orang lain yang MENGAKTIFKAN, atau situasi yang sedang terjadi (trying situation) MEMAKSA PIKIRAN/NALAR/LOGIKA untuk AKTIF.
Untuk menjadi PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) yang sukses, maka PIKIRAN/NALAR/LOGIKA harus AKTIF.
Dengan demikian untuk MENUMBUHKAN Pengusaha (Business Owner) TIDAK MUNGKIN dilakukan melalui Sistem Pendidikan biasa yang dibuat oleh para pakar pendidikan.
MENUMBUHKAN Pengusaha (Business Owner) HANYA DAPAT dilakukan melalui Sistem Pendidikan yang lain yang kami namakan Sistem "Pendidikan Bisnis".
Sayangnya masyarakat pada umumnya masih tetap mengharapkan "Menjalankan usaha (bisnis) HARUS ADA SEKOLAHNYA".
Masyarakat harus disadarkan bahwa negara ini KEKURANGAN PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) dan bahwa walaupun "menjalankan usaha (bisnis) TIDAK ADA SEKOLAHNYA", akan tetapi kami menyelenggarakan "Pendidikan Bisnis" ("pendidikan" dalam tanda kutip) yang dapat diikuti oleh mereka yang berminat menjadi Pengusaha (Business Owner).
Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI dalam upaya menumbuhkan Pengusaha (Business Owner), atau yang kami sebut dengan "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS", baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA (CALON ASSOCIATE), silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih lanjut.
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Jumat, 21 September 2007

Objective (Tujuan)


TUJUAN (OBJECTIVE) adalah pedoman dalam melakukan suatu upaya/perbuatan (something toward which effort is directed), sehingga dipakai untuk menetapkan atau mengukur PERLUNYA melakukan upaya/perbuatan yang bersangkutan.
"HIDUP BERSENANG-SENANG" adalah TUJUAN YANG MENYESATKAN bila dijadikan pedoman atau arah dalam melakukan suatu perbuatan.
Dengan AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH akan "terlihat" bahwa "HIDUP BERSENANG-SENANG" itu ibarat FATAMORGANA di padang pasir. Dari jauh seperti ada air di suatu tempat. Oleh karena sedang merasa dahaga, tempat itu dituju dengan segala cara dan daya-upaya agar segera sampai disana. Akan tetapi ternyata TIDAK ADA APA-APA selain pasir yang kering, sehingga dahaga bukannya hilang, malah tambah menjadi-jadi karena kelelahan, serta tanpa disadari telah menyimpang dari arah perjalanan yang semula telah ditetapkan.
Demikianlah kalau seseorang telah "berhasil" menumpuk kekayaan dengan segala cara dan daya-upaya dengan TUJUAN "HIDUP BERSENANG-SENANG" , akan menemukan bahwa ternyata TIDAK ADA APA-APA selain "hidup yang rumit" disebabkan oleh hal-hal yang ditimbulkan oleh segala cara dan daya-upaya yang telah digunakannya untuk menumpuk kekayaan itu. Tidak heran kalau ada yang terjun dari lantai 30 sebuah hotel mewah untuk mengakhiri "hidup yang rumit" itu.
Oleh karena itu TUJUAN yang akan dijadikan sebagai pedoman atau arah dalam menjalani hidup dan kehidupan ini HARUS ditetapkan dengan AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH, yaitu akal/pikiran/logika yang TIDAK DIPENGARUHI oleh KEINGINAN (RASA SUKA/TIDAK-SUKA) akan tetapi DUTUNJANG oleh HATI-NURANI (KALBU).
Dengan AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH akan "terlihat" bahwa "HIDUP BERSENANG-SENANG" itu pada hakekatnya TIDAK ADA dalam hidup dan kehidupan ini.
Dengan mengikuti AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH, seseorang akan cenderung menggunakan rejeki yang diperoleh secukupnya (TIDAK BERLEBIHAN) dan selebihnya, bila ada, menggunakannya untuk TUJUAN MENJALANKAN USAHA (BISNIS) ketimbang untuk TUJUAN "HIDUP BERSENANG-SENANG".
MENJALANKAN USAHA (BISNIS) adalah pilihan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini bagi setiap orang, sedangkan salah satu PERANAN yang dapat diambil dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS) adalah sebagai PENGUSAHA (BUSINESS OWNER).
Dengan menggunakan AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH dalam menetapkan TUJUAN yang TEPAT dan JELAS untuk kemudian digunakan secara KONSISTEN sebagai PEDOMAN dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS), maka seorang PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) dapat menyusun suatu "SISTEM BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk melaksanakannya, dengan pengertian:
1) "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2) Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga penyusunannya tidak lain adalah penciptaan lapangan kerja bagi para TENAGA PROFESIONAL yang kemudian akan menentukan cara melaksanakannya (how to do).
3) Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri (seff-employed);
d. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam bentuk pendapatan/uang.
Dengan demikian MENJALANKAN USAHA (BISNIS) yang SUKSES bagi seorang PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) adalah dengan TIDAK menjadikan "FATAMORGANA" sebagai TUJUAN atau PEDOMAN dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS).
Bangsa dan negara ini memerlukan PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) sebanyak mungkin.
Menumbuhkan PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) seperti yag dimaksud diatas dapat dilakukan secara perlahan-lahan tapi pasti, yaitu dengan "PENDIDIKAN BISNIS".
Padanan kata "BISNIS" adalah "URUSAN", sehingga "PENDIDIKAN BISNIS" juga dapat diartikan "PENDIDIKAN UNTUK SEGALA URUSAN", mulai dari mengurus diri sendiri, mengurus rumah tangga, mengurus usaha/perusahaan, sampai mengurus bangsa dan negara.
Bila ada yang tertarik dengan "Pendidikan Bisnis" yang dimaksud, hubungilah kami atau sebaiknya datanglah ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih jauh dan/atau kemungkinan dapat bergabung sebagai Associate untuk ikut BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS".
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541