Rabu, 08 Agustus 2007

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?

Pribadi To Do, To Have, atau To Be?

"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita
dicintai. Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain."
(Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus
bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat
masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada
saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat
mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu
melewati tiga tahapan proses itu.

Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang
bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan
kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak
menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan.
Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu
tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan
di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus
mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga
menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat
dengan tali di sebuah tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi,
ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari
perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia
mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah
sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa.
Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi
bidang keuangan dan marketing pernah berujar, "Banyak orang
mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah
bisnis." Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya
sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-
apa?

Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan.
Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan
harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-
banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati
kehidupan.
Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan
dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi
hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-
sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa
kita untuk mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah
orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering
membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan,
keluarga, kesehatan, maupun spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa
kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki.
Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi
pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran
di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang
memburuk. "Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang
betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa
bercerita tentang kesepian batin saya...," katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya.
Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita
haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan
mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri
untuk menjadi pribadi yang semakin baik.
Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa
kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki
semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka
banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup

Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga
seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa
untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati
pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna.
Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita
miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan
bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success
to Significant mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan
bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?"

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini.
Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih
memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi
kaum papa India.

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi
bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih
matang, lebih bermakna dan berkontribusi!

Sumber: Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin

Jumat, 03 Agustus 2007

Solusi Bisnis? Andalah yang paling mengetahui masalah bisnis Anda sendiri!

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bila seseorang mengalami masalah dan kemudian menanyakan kepada orang lain yang dianggap "AHLINYA" tentang cara mengatasinya, jalan keluarnya atau solusinya, maka pada dasarnya adalah karena orang tersebut tidak mengetahui MASALAH YANG SEBENARNYA yang sedang dialami/dihadapinya.
Bila orang yang mengalami masalah itu sendiri tidak mengetahui MASALAH YANG SEBENARNYA, apalagi orang lain?
Pada umumnya setiap orang menamakan "masalah" bila ada atau terjadi sesuatu yang "tidak disukai", atau bila tidak ada atau tidak terjadi sesuatu yang "disukai".
Sedangkan rasa "suka" atau "tidak-suka" adalah "manusiawi", sehingga dengan demikian pada hakekatnya setiap orang akan mengalami berbagai masalah dalam hidup dan kehidupan ini, termasuk masalah dalam menjalankan usaha (bisnis).
Bila Anda mencoba mengatasi semua masalah yang Anda anggap "masalah" tersebut, maka Anda akan "TIDAK MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA" yang sedang Anda hadapi, sehingga masalah yang sebenarnya TETAP ADA, bahkan yang BUKAN MASALAH dianggap "masalah". Tidak heran kalau Anda kemudian berharap dan yakin bahwa pasti ada "ahlinya" yang akan menunjukkan cara mengatasinya, jalan keluarnya atau solusinya.
Akan tetapi bila Anda "menyaring" terlebih dahulu semua masalah yang Anda anggap "masalah" tersebut, maka Anda akan menemukan MASALAH YANG SEBENARNYA yang sedang Anda alami dan BESAR KEMUNGKINAN Anda akan dapat mengatasinya dengan MUDAH.
Sesuatu yang Anda "sukai" atau "tidak sukai" itu PASTI menyangkut sesuatu "yang diperlakukan" yang disebut OBJEK.
Anda dapat menyaring "masalah" bila Anda mau, yaitu dengan melihat OBJEK yang bersangkutan dari SUDUT PANDANG yang terbaik menurut HATI-NURANI Anda.
"Boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai adalah baik untuk kamu dan boleh jadi sesuatu yang kamu sukai buruk untuk kamu" (Quran: Albaqarah 216).
Dari SUDUT PANDANG tersebut akan dapat Anda ketahui kondisi yang "ideal" yang seharusnya terjadi pada OBJEK yang bersangkutan.
Kondisi yang "ideal" tersebut adalah TUJUAN (OBJECTIVE) yang Anda perlukan sebagai "pedoman" dalam menentukan setiap perbuatan yang akan Anda lakukan dalam rangka upaya untuk mengatasi "masalah" (something toward which effort is directed).
TUJUAN tersebutlah yang kemudian Anda gunakan sebagai "kriteria" untuk "menyaring" terlebih dahulu "masalah" yang akan Anda atasi, yaitu HANYA "masalah" yang menyangkut OBJEK yang ADA HUBUNGANNYA dengan TUJUAN.
Anda akan menemukan beberapa OBJEK yang ADA HUBUNGANNYA dengan TUJUAN yang telah Anda tetapkan. Dengan mencari HUBUNGAN LOGIKA diantara OBJEK-OBJEK tersebut, maka Anda akan menemukan dan menyimpulkan MASALAH YANG SEBENARNYA yang sedang Anda hadapi.
Pola-pikir yang demikian ini kami namakan pola-pikir "ANALITIS-OBJEKTIF".

PRINSIP dalam pola-pikir ini adalah bahwa "TIDAK ADA ORANG YANG LEBIH MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA SELAIN ORANG YANG MENGALAMI MASALAH ITU SENDIRI".
Tidak terkecuali dalam MENJALANKAN USAHA (BISNIS): TIDAK ADA ORANG YANG LEBIH MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA SELAIN ORANG YANG MENJALANKAN USAHA (BISNIS) ITU SENDIRI.
MASALAH YANG SEBENARNYA dalam hidup dan kehidupan ini adalah bahwa Anda "TIDAK MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA" yang sedang Anda hadapi. Janganlah Anda sampai terperosok ke dalamnya . . . .!
Bila Anda ingin lebih mendalami pola-pikir ini hubungilah kami, atau sebaiknya datanglah ke alamat kami untuk membicarakannya lebih lanjut.

Wassalam,
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Mempersoalkan = menyalahkan ?

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Mempersoalkan = menyalahkan ?
Gunakanlah "akal-sehat/pikiran-jernih" Anda sebelum menjawab pertanyaan ini, bahkan SETELAH membaca e-mail ini. Sesuatu yang dipersoalkan BELUM TENTU salah, karena sangat tergantung kepada orang yang mempersoalkannya (subjektif).
Bila seseorang SUKA kepada objek yang dipersoalkan, maka orang tersebut akan mengatakan bahwa orang lain yang mempersoalkannya seolah-olah MENYALAHKAN setiap orang yang menyukai objek tersebut. Sebaliknya bila seseorang TIDAK SUKA kepada objek yang dipersoalkan, maka orang tersebut akan mendukung bila ada orang lain yang mempersoalkannya.
Akan tetapi bila seseorang MEMANDANG PERLU untuk mempersolahkan suatu objek, terlepas dari apakah orang tersebut menyukai atau tidak menyukai objek yang bersangkutan, PASTI karena telah melihat dengan "akal-sehat/pikiran-jernih" bahwa objek yang bersangkutan akan menyebabkan "hari ini TIDAK AKAN lebih baik dari kemarin dan hari esok TIDAK AKAN lebih baik dari hari ini" dalam hidup dan kehidupan ini.
Sekarang saya akan mencoba MEMPERSOALKAN tentang "BERTANYALAH KEPADA AHLINYA KALAU ADA MASALAH".
Bila Anda lebih menyukai "BERTANYALAH KEPADA AHLINYA KALAU ADA MASALAH", maka Anda PASTI menganggap bahwa saya telah MENYALAHKAN Anda, atau menganggap Anda SALAH.
Saya MEMPERSOALKAN prinsip "BERTANYALAH KEPADA AHLINYA KALAU ADA MASALAH", karena PADA DASARNYA TIDAK ADA ORANG LAIN YANG LEBIH MENGETAHUI TENTANG SUATU MASALAH DIBANDINGKAN DENGAN ORANG YANG MENGHADAPI MASALAH ITU SENDIRI. Oleh karena itu TIDAK MASUK AKAL kalau ada ORANG LAIN YANG LEBIH MENGETAHUI TENTANG SUATU MASALAH DIBANDINGKAN DENGAN ORANG YANG MENGHADAPI MASALAH ITU SENDIRI, yang kemudian dianggap "AHLINYA".
Saya menyadari bahwa banyak hal YANG TIDAK MASUK AKAL, akan tetapi ternyata TIDAK merupakan MASALAH dalam hidup dan kehidupan ini. Akan tetapi saya juga memandang PERLU untuk MEMPERSOALKAN SESUATU YANG TIDAK MASUK AKAL, bila saya melihatnya akan MENIMBULKAN MASALAH, sebagai tanda bahwa saya MENGGUNAKAN "akal-sehat/pikiran-jernih" yang telah dikaruniakanNYA kepada saya.
Ketahuilah bahwa bila Anda sampai bertanya kepada orang lain tentang CARA (SOLUSI) UNTUK MENGATASI SUATU MASALAH, pada hakekatnya adalah karena Anda "TIDAK MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA" yang sedang Anda hadapi. Ada kemungkinan sesuatu yang ada dalam pikiran Anda sebenarnya BUKAN masalah, bahkan ada kemungkinan masalah yang sebenarnya adalah sesuatu yang TIDAK/BELUM ADA DALAM PIKIRAN Anda.
"Pendidikan Bisnis" yang saya selenggarakan adalah "pendidikan" (dalam tanda kutip) untuk mengaktifkan "akal-sehat/pikiran-jernih" Anda dengan MEMBICARAKANNYA dalam pertemuan reguler sekali seminggu @ 2jam, sehingga terbentuk POLA-PIKIR untuk "MENGETAHUI MASALAH YANG SEBENARNYA" yang sedang Anda hadapi, sebelum Anda melakukan sesuatu untuk mengatasinya.
"Akal-sehat/pikiran-jernih" adalah akal yang TIDAK DIPENGARUHI oleh KEINGINAN (rasa SUKA/TIDAK-SUKA), akan tetapi DITUNJANG oleh KALBU (HATI-NURANI), terutama untuk menentukan TUJUAN yang akan dijadikan pedoman dalam setiap melakukan sesuatu. Dengan POLA-PIKIR yang SELALU MENGARAH KE TUJUAN, maka Anda akan mempunyai suatu PEDOMAN untuk mengetahui/menemukan MASALAH YANG SEBENARNYA dan demikian juga CARA (SOLUSI) UNTUK MENGATASINYA.
Saya sebut sebagai "pendidikan" (dalam tanda kutip) oleh karena TIDAK ADA PERSAMAANNYA dengan SEKOLAH/KURSUS, karena SAMA SEKALI tidak menyangkut PENGETAHUAN dan/atau KETERAMPILAN.
Bagi Anda tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI, baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih lanjut.
Wassalam,
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Bila seorang Pekerja/Profesional memasuki "dunia usaha"

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bila seorang Pekerja/Profesional memasuki "dunia usaha", akan tetapi masih tetap dengan "pola-pikir Pekerja/Profesional" tanpa merubahnya menjadi "pola-pikir Pengusaha", maka dia akan TETAP bermaksud untuk BEKERJA di "dunia usaha" yang akan dimasukinya, sehingga:
1) Dia akan menjalan usaha yang sesuai dengan bidang pekerjaan (profesi) yang dipunyai/dikuasainya (dokter, pengacara, pedagang dan lain-lain);
2) HARUS sudah tersedia dana yang dinamakannya MODAL untuk membayar biaya-biaya yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan;
3) HARUS sudah tersedia TEMPAT dan segala PERALATAN yang diperlukan untuk BEKERJA;
4) HARUS sudah tersedia orang-orang yang akan MEMBANTU dia bekerja, yang dinamakannya PEGAWAI.
Bila seorang Pekerja/Profesional bermaksud akan memasuki "dunia usaha" dengan menjadi "Pengusaha (Business-owner)", maka dia harus meninggalkan "pola-pikir Pekerja/Profesional" yang ada dalam "alam-pemikiran"nya dan untuk selanjutnya menggunakan "pola-pikir Pengusaha".
Pengusaha (Business Owner) yaitu seseorang yang membangun/menyusun suatu "SISTEM BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk melaksanakannya, dengan pengertian:
1) "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2) Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga menyusun suatu "SISTEM BISNIS" tidak lain adalah menciptakan lapangan kerja untuk para TENAGA PROFESIONAL yang kemudian akan menentukan cara melaksanakannya (how to do).
3) Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri (seff-employed);
d. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam bentuk pendapatan/uang.
Kami berdedikasi untuk MENUMBUHKAN "Pengusaha (Business-owner)" SEBANYAK MUNGKIN, yang SANGAT DIPERLUKAN oleh bangsa dan negara ini, dengan menyelenggarakan "Pendidikan Bisnis".
Bila Anda adalah seorang Pekerja/Profesional, yang oleh karena sesuatu hal, bermaksud akan memasuki "dunia usaha" dengan menjadi "Pengusaha (Business-owner)", hubungilah kami, atau sebaiknya datanglah ke alamat kami, untuk membicarakan kemungkinan kami dapat menyelenggarakan "Pendidikan Bisnis" untuk Anda.
"M. A. Dani & Associates"

Wassalam,
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Kamis, 02 Agustus 2007

KALBU/HATI-NURANI. PENGUSAHA

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Bila Anda BISA berbuat sesuatu, belum tentu Anda MAU melakukannya. Sebaliknya bila Anda MAU berbuat sesuatu, belum tentu Anda BISA melakukannya, akan tetapi mungkin Anda bisa menyerahkan kepada orang lain yang MAU dan BISA melakukannya untuk Anda. Anda akan MAU atau TIDAK-MAU berbuat sesuatu tergantung dari rasa SUKA atau TIDAK-SUKA yang timbul dalam diri Anda, yang selanjutnya akan menimbulkan KEINGINAN untuk melakukannya atau tidak-melakukannya. Akan menjadi masalah bagi Anda bila ada suatu PERBUATAN yang menurut "akal-sehat/pikiran-jernih" PERLU DILAKUKAN, akan tetapi ternyata Anda TIDAK-SUKA melakukannya.
Dalam hal ini TIDAK ADA ORANG LAIN yang dapat menolong Anda, kecuali Anda sendiri, yaitu dengan MENGHIDUPKAN "akal-sehat/pikiran-jernih" dalam diri Anda.

"Akal-sehat/pikiran-jernih" adalah AKAL/PIKIRAN/NALAR/LOGIKA yang tidak dipengaruhi oleh KEINGINAN, akan tetapi yang ditunjang oleh KALBU/HATI-NURANI.
"PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" tentang "akal-sehat/pikiran-jernih" yang akan membentuk "pola-pikir" yang selanjutnya akan menentukan "tindakan/perilaku/perbuatan". Sedangkan "akal-sehat/pikiran-jernih", "pola-pikir" dan "tindakan/perilaku/perbuatan" BUKAN merupakan "ilmu pengetahuan atau keterampilan" seperti yang didapatkan di SEKOLAH (sekolah dasar sampai perguruan tinggi dalam Sistem Pendidikan Nasional, termasuk kursus/training/workshop), sehingga "PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" dalam "tanda kutip", BUKAN SEKOLAH. "Tindakan/perilaku/perbuatan" seseorang merupakan ekspresi dari "pola-pikir" dari orang yang bersangkutan, sedangkan PEMBICARAAN adalah juga merupakan atau termasuk "tindakan/perilaku/perbuatan". Atas dasar kaidah tersebut, maka sistem "Pendidikan Bisnis" yang sedang dikembangkan oleh "M. A. Dani & Assosiates" adalah berupa Pertemuan Mingguan selama 2 jam untuk MEMBICARAKAN topik-topik yang berhubungan dengan "akal-sehat/pikiran-jernih" dengan peserta "pendidikan" dalam rangka untuk menanamkan "pola-pikir" yang akan merubah "tindakan/perilaku/perbuatan".

Hasil yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi adalah "tindakan/perilaku/perbuatan" yang SELALU MENGARAH KE TUJUAN (OBJEKTIF)". Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI, baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk membicarakannya lebih lanjut.
Wassalam,
"M. A. Dani & Associates"
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS"
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Kamis, 21 Juni 2007

KEYAKINAN DAN KETEKUNAN

KEYAKINAN DAN KETEKUNAN

Oleh Eko Jalu Santoso,

www.ekojalusantoso.com

Sahabat, dalam hidup seringkali kita menerima keadaan dan situasi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apakah itu dalam bidang pekerjaan, dalam bidang usaha maupun dalam kehidupan keluarga. Ketika kita dihadapkan pada situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan misalnya, apakah Anda sedih dan putus asa ? Ketika kondisi negeri kita seringkali dirundung berbagai masalah, musibah dan bencana bertubi-tubi, bagaimanakah kita harus menyikapinya ?. Apakah anda merasa pasrah menerima keadaan tanpa melakukan usaha ? Ataukah kebalikannya anda bertekad untuk berjuang keras untuk keluar dari lubang masalah dan maju meraih kesuksesan ?.

Sahabat, pagi hari ini saya ingin berbagi sebuah kisah yang sungguh luarbiasa dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua mengenai kekuatan dari sebuah keyakinan dan ketekunan dalam berusaha.

Adalah Anthony Faison (36) dan Charles Sheperd (40), keduanya merupakan pria Amerika yang tahun 1987 secara keliru dinyatakan bersalah membunuh seorang sopir taksi. Kedua pria itu divonis hanya atas dasar kesaksian seorang saksi, dan saksi itu pun mengaku sedang mabuk pada malam terjadinya pembunuhan itu. Namun pengadilan telah memutuskan kedua pria itu dengan dijatuhi hukuman seumur hidup.

Coba bayangkan, bagaimana kalau anda jadi orang seperti ini ? Apa yang akan anda lakukan bila anda tidak bersalah, tapi akibat suatu kekeliruan anda divonis hukuman seumur hidup di penjara ?.

Tidak bersalah !, namun dipenjara bertahun-tahun tanpa tahu kapan akan bebas. Dan apakah bisa bebas di masa depan ?.

Pasrah dengan keadaan ? Tidak memiliki keyakinan untuk terus berjuang ?.

Anthony Faison dan Charles Sheperd tidak mau menyerah begitu saja. Dia memilii “keyakinan” bahwa dirinya akan bisa bebas dari penjara karena merasa tidak bersalah. Keyakinannya ini mendorong dirinya untuk memiliki semangat melakukan perjuangan. Dengan “keyakinan” dan “ketekunannya” selama 14 tahun, orang yang tidak bersalah ini terus menerus berusaha mengirimkan surat kepada para detektif, para pengacara dan para tokoh politik untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah.

Berapakah surat yang telah ditulisnya ? Konon mencapai 62.000 surat !. Dan setelah 14 tahun, dari salah satu surat itu, menggerakkan hati seorang detektif yang akhirnya menemukan fakta sebenarnya dari kisah pembunuhan yang salah tangkap itu. Bayangkan !. Selama 14 tahun dan dari 62.000 surat cuma dapat 1 tanggapan ?.

Dan akhirnya keyakinan dan ketekunannya melakukan perjuangan LUARBIASA ini membuahkan hasil juga. Dia divonis bebas dan mendapatkan ganti rugi rugi sebesar US$ 3,3 juta (sekitar Rp 29 miliar lebih) dari Negara.

Sahabat semuanya, cobalah menghitung, kalau selama 14 tahun dia mengirim 62.000 surat. Maka tiap hari minimal dia harus menulis atau mengirimkan sekitar 12 atau 13 surat tanpa henti. Terus menerus selama 14 tahun. Artinya setiap 2 jam dia menulis atau mengirimkan satu surat selama dipenjara. Dan pikirkan, bahwa dia telah ditolak dan gagal sebanyak 61.999 kali, namun tidak pernah putus asa. Hanya 1 kali akhirnya diterima.

Sahabat, hukum alam itu sesungguhnya sederhana saja. Barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, mendapatkan jarinya lepuh. Pasukan yang berani berperang dengan gigih, bertempur dengan gagah berani - tanpa takut akan kegagalan- akan meraih kemenangan. Orang yang memiliki keyakinan dan ketekukan bekerja, lebih giat berusaha, tanpa pernah mudah menyerah dalam berusaha - akan memperoleh keberhasilan dan kesuksesan. Itullah “sunnatullah” atau hukum sebab akibat.

Sayangnya, banyak orang yang mengingkari hukum “sunnatullah” ini. Hanya karena sebagian orang mempercayai bahwa “langit itu adil” dan kemudian merasa percaya pada sang langit saja, berdoa kepada sang langit saja, mengharap kepada sang langit saja, tanpa pernah mau melakukan usaha nyata, kemudian berharap emas jatuh ke pangkuannya begitu saja. Padahal tiada imbalan yang dapat diraih tanpa usaha. Tiada buah yang dapat dipetik tanpa menaburkan benih-benihd an setia merawatnya. Sesungguhnya keyakinan dan ketekunan tak akan pernah jauh dari imbalan itu sendiri.

Sahabat, sebuah KEYAKINAN dapat memberi makna pada setiap usaha yang kita lakukan. Maka imbalan pun pasti akan memenuhi jiwa kita.

KEYAKINAN sesungguhnya akan memperkaya batin kita. Sedangkan KETEKUNAN akan mendekatkan pada keberhasilan usaha. Tentu saja keduanya akan menjadi lebih sempurna kalau disertai dengan DOA kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan.

Sahabat, mari kita pelihara keyakinan dan ketekunan dalam diri kita masing-masing. Kita pertahankan keyakinan dan ketekunan dari dalam hati di setiap langkah kehidupan ini. Karena dengan Keyakinan kita - maka akan memperkaya tangan dan batin kita. Keyakinan dan Ketekunan dalam hidup, dalam karier dalam bisnis akan sangat dahsyat pengaruhnya bagi kesuksesan seseorang jauh melampaui modal harta benda, kedudukan, pangkat, atau ilmu sekalipun.

Salam Motivasi Nurani !

Rabu, 20 Juni 2007

Entreprenuer

Oleh : Budi Dewobroto
Kalo berdasarkan pengelaman dan pengamatan, ada 4 hal yang kurang dimiliki anak muda Indonesia untuk mengembangkan potensi jadi entrepreneur, yang harus dibuatkan program yang holistik :
1. Pendidikan bisnis
2. Lingkungan yang mendukung
3. Networking
4. Regulasi
Alasan kenapa 4 hal diatas yang ditulis, Pertama pada kenyataanya memang kurang sekali pendidikan bisnis diberikan. Kurikulum pendidikan indonesia dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi lebih mendidik lulusan sekolah kita jadi karyawan. Itupun tidak lengkap. Makanya selalu timbul gap antara lulusan pendidikan tinggi dan industri, atau istilah kerennya tidak ada link and match...wuiiihhh..... Lulusan pendidikan kejuruan juga diarahkan jadi tenaga kerja terampil..., dicatat.. tenaga kerja. Jadi harus diakui bahwa pendidikan yang mendorong terciptanya pebisnis dikalangan pemuda lumayan minim..., dalam hal ini yang gampang-gampang aja deh, pendidikan keuangan....kalo kata Robert Kiyosaki...melek keuangan atau bahasa Jawa-nya Financial Literacy. Yang namanya keuangan itu sangat jarang disentuh di banyak fakultas non ekonomi, kalaupun ada yah paling 2 semester ..bener gak? Terus yang cukup penting adalah Pemasaran Strategic...bukan sekedar gimana cara melakukan pemasaran...4P untuk barang, 7P untuk jasa plus STP dan turunannya seperti yang diajarkan Kottler. Banyakkan kasus UKM yang punya produk bagus, harga bersaing tapi gak bisa jualan...jangankan sales, marketing aja bingung, mau di lempar kemana produknya....ya karena itu tadi. Nah yang paling penting nih masalah Mind Set and Paradigma...anak sekolah di Indonesia sudah dibentuk mindset-nya oleh sekolah, lingkungan dan keluarga bahwa lebih aman, nyaman dan sejahtera kalo cari kerja yang bagus dan jadi karyawan yang rajin, biar cepet naik gaji dan munggah jabatan...yo opo tho?. Jadinya, begitu lulus ya ngelamar kerja di perusahaan, kalo bisa Multi National Company. Makanya lumayan susah menumbuhkan jiwa entrepreneurship dikalangan masyarakat. Yang kedua itu Lingkungan. Karena Mindset karyawan itu tadi, maka masyarakat yang mencoba terjun jadi pengusaha itu pada banyak kasus tidak didukung oleh lingkungan, yang paling dekat aja, keluarga. Mungkin ada juga yang keluarganya mendukung, tapi rata-rata yang dapat dukungan dari keluarga itu yang memang datang dari latar belakang pebisnis, besar ataupun kecil. Ketiadaan network juga jadi hal yang cukup menghambat, ditambah lagi ketiadaan akses untuk mengembangkan networking,...keciaaann deh. Yang terakhir Regulasi, maksudnya apa? Maksudnya ketidaktahuan akan regulasi, peraturan dan prosedur yang diperlukan untuk berbisnis ini cukup membantu dalam menciptakan stagnasi perkembangan kualitas dan kuantitas pengusaha di Indonesia. Termasuk didalamnya pengetahuan tentang perijinan, aturan kredit dari perbankan, pajak, dokumen-dokumen, prosedur ekspor, merek, lisensi dan lain-lain masih banyak lagi. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu cara agar ke empat hal diatas dapat difasilitasi dan masyarakat bisa memiliki akses untuk mendapat 'ilmu'nya.
.
Tinggal dibuat suatu rangkaian program yang integral dan memiliki benang merah dengan mengadakan gathering dan sharing antara pengusaha yang sukses dengan calon pengusaha. Dengan program ini 4 hal yang disebut diatas akan dengan sendirinya terpenuhi. Pendidikan bisnis dengan pola dari dan untuk peserta yang lebih berbasis pada pengalaman dan kasus bisnis yang dihadapi sehari-hari akan lebih terserap dan mudah di adopsi para peserta dalam menhadapi permasalah bisnis masing2. Networking, jelas, visi networking-nya akan tercapai dengan sendirinya. Bayangkan 20an pengusaha bertemu dalam suasana santai, saling belajar dan berkenalan, melontar dan menangkap ide, kalo gak terjadi networking...ya salah pesertanya sendiri dong ah. Nah, biasanya masalah yang paling bikin sedih kalo mau jadi pengusaha, apalagi waktu start-up bisnis biasanya timbul pada perasaan sendirian, gak punya temen, bingung...kalo ada masalah tanya kesiapa, mau curhat sama siapa, cari nasihat yang jitu ke siapa...hiks. Dengan program ini, paling nggak kan para pengusaha ini, baik pemula ataupun yang sudah maju tidak merasa sendirian, ada lingkungan yang bisa membantu, mendapat support, merasa terdukungi-lah...halaah. Sebaiknya ya dibuat suatu komunitas, OTB dan non-partisan, jadi suasananya bisa lebih akrab dan tulus...semogaJ. Terakhir, ya pengetahuan akan regulasi dan perpajakan sih harusnya bisa saling dibagi juga disini, ya nggak?.
  1. Mindset, Paradigam dan motivasi seorang entrepreneur
  2. Peluang usaha, ide bisnis dan Perencanan Bisnis
  3. Business law, termasuk perijinan, prosedur dan pajak, kalo perlu HaKI sekalian.
  4. Networking dan komunikasi bisnis termasuk negosiasi dan persuasi
  5. Manajemen usaha secara umum
  6. Perencanaan dan manajemen keuangan, bisa personal atau juga bisnis
  7. Pemasaran strategik, penjualan dan saluran distribusi
  8. Investasi dalam bisnis, termasuk hubungan dengan pemodalan bank dan non bank
  9. IT dan e-commerce, termasuk internet business and marketing
  10. Creative business
  11. Bisnis Entertaintment
  12. Franchise dan life style business termasuk resto, café dll
  13. dan lain-lain kalo masih ada