Dear Pak Made (mudahan nggak salah menyebut pak, karena saya juga ada teman kursus dulu yang bernama made tapi ibu)
Tulisan anda sungguh menggelitik saya untuk ikut berkomentar, sangat sejalan dengan apa yang saya usahakan dan jalankan, untuk merubah cara pandang dalam dunia bisnis. Sebagaimana diketahui bersama bahwa para pebisnis mengatakan bahwa bisnis itu tidak ada sekolahnya. Yang adalah sekolah yang senang mengutak atik kegiatan atau kebijaksanaan pebisnis.
Menurut pandang tempat kami berusaha merubah sudut pandang adalah:
Pertama sekolah yang ada dimana-mana, dinegara manapun adalah menididik orang untuk berlaku atau memikirkan “how to do” atau dengan kata lain bagaimana menyelesaikan masalah disuatu situasi tertentu. Jadi hasil didikan ini adalah menghasilkan profesional yang adalah penyelesai masalah alias pekerja. Pernahkan baca cerita orang bodoh mempekerjakan orang pintar. (orang bodoh adalah orang yang nggak selesai sekolah formalnya atau DO). Profesional akan selalu bertanya: “where is the plan”. Bila ada plan maka dia sanggup menjalankan dengan keprofesionalannya.
Kedua adalah orang yang berfikir “what to do”, dimana rangkaian what to do ini adalah menjadi suatu proposal bisnis dan lebih jauh merupakan sistim bisnis alias plan bisnis (Business Plan). Orang kedua ini selalu berfikir atau memikirkan apa yang harus diperbuat, dan sesudahnya apa dan apalagi. Rangkaian dari apa dan apa dan apa sehingga menghasilkan sesuatu penyelesaian masalah dalam hidup. Sebab dalam ekonomi, nilai ekonomi akan timbul dari adanya masalah, seperti Adam Smith bilang karena adanya kelangkaan (scarsy) lah timbulnya upaya penyelesaian masalah tersebut. Upaya ini butuh usaha atau biaya, usaha inilah yang mendatangkan hasil.
Orang kedua ini adalah pebisnis, orang yang menciptakan apa yang akan dikerjakan oleh ahlinya (profesional). Orang ini berfikir atau berlaku dalam penciptaan sistim atau plan. Plan inilah yang akan diserahkan untuk dikerjakan oleh profesional. Hal inilah yang kami coba jalankan atau perkenalan, bagaimana mengambil posisi sebagai orang yang kedua ini, berfikiran sebagai pebisnis, sebagai pencipta plan dan sistimnya. Cara pendekatan orang kedua ini sering kami singgung di http://darultda.blogspot.com .
Saya disini mohon izin bapak Made untuk dapat memuat tulisan pak Made dibawah didalam blog saya. Dan atas kerelaannya, saya mengucapkan terima kasih.
Salam
Darul
Jakarta
From: Made Teddy Artiana
Sent: 27 Agustus 2008 7:59
Nggak Sekolah ? So What Gitu Loh !!
By Made Teddy Artiana, S. Kom
"Gawat ! Adik gue DO, Mas", curhat salah seorang freelanche graphic designer yang bekerja pada kami. Berita yang tidak terlalu menarik sebenarnya dibanding aliran dana BI. "Emang dia kuliah dimana ?" sahut ku ngasal sekedar menanggapi. "Dia baru SMA. Karena hobby ngerakit motor. Dia jadi lupa sekolah dan akhirnya dipecat dari sekolah. Padahal sekolah khan mahal !!". Singkat cerita sang teman kemudian menceritakan lengkap tentang 'permasalahan' sang adik yang dia anggap sudah memusingkan keluarga. Akhirnya percakapan jadi menarik. Masih SMA dan dipecat gara-gara hobby nya dibidang automotif. Yang lebih menarik adalah ujung ceritanya (meskipun bukan berarti tamat). Sang adik akhirnya menciptakan sebuah motor. yang menjadi pemenang pertama perlombaan disebuah majalah otomotif terkenal.
Serupa tapi tak sama. Fenomena menarik dialami juga oleh artis Memes, istri Adie MS seorang composer ternama di tanah air. Anak mereka, tidak mau bersekolah lagi. Pasalnya, ia menganggap sekolah umum itu, tidak lain dan tidak bukan hanyalah buang waktu percuma. Kok bisa ? Begini penjelasan sangat-sangat logis sang anak. Ia hobby musik, cendrung tergila-gila dan ia ingin menghabiskan 50% waktu berharganya untuk mempelajari musik. Kalau saja ia terlahir dari keluarga yang buta musik, contoh dokter, pengacara atau bisnisman, mudah ditebak hal ini akan menyulut perang dunia dengan ortunya. Beruntung, anak ini punya mama penyanyi terkenal dan papa, komposer kenamaan. Jadi, walaupun tidak mudah (baca : tidak seperti yang lain), orang tuanya bisa mengerti.
Mirip dan agak menggelikan dibanding kedua contoh diatas. Sedari dulu, saya punya hobby mengumpulkan artikel dari berbagai media. Internet, koran atau majalah. Beberapa tokoh terfavoritepun masuk DPO (Daftar Pencarian O..artikel). Gede Prama, siapa yang tidak kenal beliau. Pembicara sekaligus Sang Resi dalam hal manajemen, bisnis dan kehidupan, tentu saja masuk list. Bukan karena alasan kesukuan, tetapi memang saya pribadi mengganggap beliau termasuk asset berharga bangsa ini. Uniknya, disebuah artikel beliau pernah bertutur kurang lebih begini….(kalau keliru sedikit mohon dimaafkan ya Bli Gede…sesama orang Bali..tentu punya T yang mantep). "Kalau Anda mau sukses Anda harus berani lebih dari orang lain. Jika orang lain punya satu gelar, Anda harus punya dua…dsb..dsb". For your info, Gede Prama memang punya dua gelar yang beliau dapat dari luar negeri sana. Artikel itu membuat saya ingin kuliah lagi. Sarjana rasanya tidak cukup lagi. Lebih afdol jika ditambah dengan sebuah gelar Master…minimal MM. Lama berselang. Beberapa bulan selanjutnya Sang Resi menulis sebuah artikel yang agak mencengangkan, bagi saya pribadi tentunya. Artikel itu berjudul : Sekolah Bikin Muntah ! Dalam artikel tersebut Gede Prama menyamakan sekolah dengan sebuah kebiasaan 'jaman doeloe' di Bali sana. Pembelajaran guru dengan murid, disamakan dengan seorang anak balita yang memakan makanan yang sudah dikunyah oleh ibunya. Beliau juga menyebutkan betapa mereka yang bersekolah lama-lama dan tinggi-tinggi sebagian besar berubah jadi semacam monster 'pinter' sekaligus dingin dengan paradigma kaku yang akhirnya jadi mesin sok tahu. Terlalu terstruktur jika dibandingkan dengan keacak-randoman permasalahan dalam dunia bisnis sekarang ini. Ada apa dengan Bli Gede sebenarnya…? Mungkin hanya beliau yang tahu pasti. Apakah dalam perjalanan hidup beliau bertemu suatu permasalahan yang hanya dapat dipecahkan dengan cara mengacak-acak otak pinter yang sudah kaku terstrutur ? Entahlah. Perjalanan saya tentunya masih seumur palawija jika dibanding dengan beliau.
Yang pasti jika boleh saja disimpulkan, sekolah umum sudah bukan lagi jamannya menjadi syarat dalam kehidupan ini. Bukan merupakan 'mas kawin' yang merupakan syarat mutlak sebuah perkawinan. Menjadi programer komputer misalnya, hanya membutuhkan seperangkat komputer dan buku-bukunya, tidak membutuhkan embel-embel S. Kom (Sarjana Komputer) yang muahaaaal padahal belum tentu menjadi jalan mutlak dan 'satu-satunya' bagi seseorang untuk sukses. Untuk yang satu itu sepertinya pengalaman pribadi . Hal yang sama berlaku untuk beberapa profesi yang lain, memang tidak semua. Untuk jadi Marketing misalnya, memang harus belajar marketing, tetapi tidak harus berijasah marketing. Untuk jadi pengusaha tidak mesti jebolan sekolah bisnis. Jika demikian berarti permasalahan BIAYA SEKOLAH yang seolah momok sebenarnya bukan kiamat bagi kaum kebanyakan. Punya uang ? Silakan sekolah. Nggak punya uang? Bukan masalah..ya nggak usah sekolah ! Belajarlah sendiri. Simple dan nggak perlu pusing. Ketidakmampuan bersekolah atau kuliah tidak perlu melahirkan gejala minder wader muter kompleks (istilah saya pribadi). Pertama-tama bagi sang anak, kedua bagi orang tua. Jangan sampai, syarat basi (baca : titel, gelar dsb) membuat banyak orang tua stress dan tampak menjadi tiga kali lebih tua dari umur sebenarnya. Memang, persoalan sekolah lebih-lebih saat sekarang ini, lebih mirip hantu dibanding malaikat. Biaya sekolah seolah mampu menciptakan garis tegas diantara miskin dan kaya. Disini peran orang tua kembali sangat dibutuhkan. Memberikan arah dan pencerahan bagi kaum muda. Kemandirian untuk dapat belajar sendiri. Era agraris dan industri sudah berlalu, zaman sudah berudah, meskipun gaya pendidikan sekolah masih monoton. Kita semua tentu berharap jangan sampai, era informasi dan hightech membuat sekolah tradisional tampak seperti babi gendut ditengah kumpulan kijang-kijang yang melompat indah kesana kemari. Atau seperti badut tambun diantara kontes perut sixpack sebuah produk susu para lelaki. Sudah saatnya urutan "WATI-BUDI-IWAN" jaman kuda dulu diacak atau diganti dengan "WARNO-ANGEL-IJAH" dan kalimat "INI BUDI" diganti dengan kalimat yang lebih kritis seperti "MANA WARNO ?"
Menutup tulisan ini ada sebuah cerita sederhana menarik yang menggelitik. Adalah seorang pelajar yang duduk dikelas dua SMA. Berasal dari keluarga sederhana dan sama sekali tidak pandai di sekolahnya. Kini sudah punya penghasilan jutaan rupiah perbulan dari hasil menjadi guru privat musik bagi anak-anak orang kaya. Berawal dari gitar 'cumi' tetangga (Cuma minjem), pemuda belia itu kini sudah mengambil alih peran orang tua dalam persoalan finansial. Jadi seandainya saja Anda sepakat dengan saya, sekolah tentunya bukan TUHAN yang akhirnya menjadi penentu satu-satunya jalan hidup Anda. Jika satu hal itu membuat hidup yang indah ini menjadi begitu membebani Anda dengan sejuta syarat. Gampang…kalikan dia dengan NOL..! (alias lupakan saja). Tidak ada selain TUHAN tentunya yang begitu menentukan dalam hidup ini, termasuk syarat berlebel : SEKOLAH. Semua ini tentunya bukan mengisyaratkan sentimen anti sekolah. Apalagi pelecehan terhadap profesi guru. Sama sekali tidak. Justru ini sebaiknya dipahami dalam kerangka yang lebih luas dan postif tentunya. Karena sampai kapanpun pendidikan dan pembelajaran selalu mutlak perlu, tetapi 'sekolah'..sangat-sangat relatif.
(*** mta : teriring hormat yang dalam untuk para guru dipedalaman sana, yang membuat kaum terbelakang dan miskin mengeyam manisnya pendidikan***)
Tampilkan postingan dengan label Belajar Biz sambil berbisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Biz sambil berbisnis. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Agustus 2007
Belajar Biz sambil berbisnis
Menjadi Associate di “M. A. Dani & Associates”
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
I. “M. A. Dani & Associates”
A. “M. A. Dani & Associates” adalah sekelompok anggota masyarakat yang independen (nonpolitik)
yang melakukan kegiatan untuk BERBUAT NYATA dalam rangka PERBAIKAN
“NASIB BANGSA” MELALUI “PENDIDIKAN BISNIS”.
B. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara legal, kelompok ini bernaung dibawah badan
hukum berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama “PT. Tatabisnis Usaha Globalisia”.
II. PERBAIKAN “NASIB BANGSA”
A. Perbaikan “nasib bangsa” adalah perbaikan untuk menjadikan “kehidupan berbangsa dan
bernegara” pada hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari
ini, sedangkan yang digunakan sebagai ukuran “lebih baik” adalah “kondisi perekonomian”
tanpa mengabaikan hal lainnya yang dapat dan perlu digunakan sebagai “ukuran”.
B. TULANG PUNGGUNG PEREKONOMIAN setiap negara pada kenyataannya adalah
“PENGUSAHA (BUSINESS OWNER)” yang membangun/menyusun suatu "SISTEM
BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian
menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang
MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk
melaksanakannya, dengan pengertian:
1. "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK
USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang
atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2. Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam
suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga penyusunan suatu "SISTEM BISNIS"
tidak lain adalah PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA bagi para TENAGA
PROFESIONAL dan kemudian TENAGA PROFESIONAL yang akan menentukan
CARA MELAKSANAKAN (how to do) KEGIATAN yang bersangkutan yang sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada.
3. Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan
menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri
(self-employed);
d. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam
bentuk pendapatan/uang.
C. Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang TIDAK MENDUKUNG untuk
menumbuhkan PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) yang dimaksud diatas, sehingga
diperlukan lagi Sistem "Pendidikan" (dalam tanda kutip) yang lain yang kami namakan
Sistem "Pendidikan Bisnis".
III. “PENDIDIKAN BISNIS”
A. "PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" tentang "akal-sehat/pikiran-jernih" yang
akan membentuk "pola-pikir" dan yang selanjutnya akan menentukan/mempengaruhi
"tindakan/perilaku/perbuatan", sedangkan "akal-sehat/pikiran-jernih" adalah
AKAL/PIKIRAN/NALAR/LOGIKA yang tidak dipengaruhi oleh KEINGINAN, akan
tetapi ditunjang oleh KALBU/HATI-NURANI.
B. "Akal-sehat/pikiran-jernih", "pola-pikir" dan "tindakan/perilaku/perbuatan" BUKAN
merupakan "ilmu pengetahuan atau keterampilan" atau “mata pelajaran” seperti yang
diajarkan dalam Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang (dari sekolah
dasar sampai perguruan tinggi, termasuk kursus/training/workshop), sehingga
"PENDIDIKAN BISNIS" disebut "Pendidikan" (dalam tanda kutip) oleh karena BUKAN
SEKOLAH seperti dalam Sistem Pendidikan Nasional.
C. PEMBICARAAN seseorang adalah merupakan EKSPRESI dari "pola-pikir" dari orang
yang bersangkutan, sehingga termasuk "tindakan/perilaku/perbuatan" dari orang yang
bersangkutan dan atas dasar kaidah tersebut maka:
1. "Pendidikan Bisnis" yang diselenggarakan oleh "M. A. Dani & Assosiates" adalah
berupa PEMBICARAAN DENGAN PESERTA "PENDIDIKAN" dalam pertemuan
mingguan selama 2 jam, dalam rangka untuk menanamkan "pola-pikir" yang akan
merubah "tindakan/perilaku/perbuatan" tentang topik-topik yang berhubungan dengan
"akal-sehat/pikiran-jernih", antara lain kaidah bawa: "Sudut-pandang akan
menentukan pola-pikir, sedangkan pola pikir akan menentukan perilaku" sehingga:
a. Bila seseorang melihat suatu usaha (bisnis) sebagai tempat bekerja maka pola-pikir
orang yang bersangkutan akan menjadi pola-pikir seorang pegawai/profesional
yang terfokus kepada pemikiran tentang "bagaimana mengerjakannya (how to
do)" dan perilaku orang yang bersangkutan akan terpusat pada "mempekerjakan
diri sendiri (self-employed)", sedangkan pemikiran tentang "bagaimana
mengerjakannya (how to do)" lebih banyak didasarkan kepada "keinginan (want)
mengerjakan sesuatu", sehingga sedikit-banyaknya berbeda bagi setiap orang
sesuai pendapat/opini masing-masing (subjektif).
b. Bila seseorang melihat suatu usaha (bisnis) sebagai tempat berlangsungnya
"proses-bisnis" maka pola-pikir orang yang bersangkutan akan menjadi pola-pikir
seorang pengusaha (business-owner) yang terfokus kepada pemikiran tentang
"kegiatan apa yang akan dilakukan (what to do)" dan perilaku orang yang
bersangkutan akan terpusat pada "mempekerjakan orang lain (employment)",
dengan kata lain akan menyediakan lapangan kerja untuk orang lain, sedangkan
pemikiran tentang "kegiatan apa yang akan dilakukan (what to do)" lebih
didasarkan kepada "keperluan (need) melakukan/mengerjakan sesuatu", sehingga
hampir dapat dikatakan sama bagi setiap orang sesuai fakta yang terlihat dari sudut
pandang yang sama (objektif).
c. Setiap orang pada dasarnya berperilaku subjektif, namun bila ingin menjalankan
suatu usaha (bisnis) harus diimbangi dengan perilaku objektif..
2. Waktu yang selebihnya dari 2 jam dalam seminggu tersebut HARUS digunakan sendiri
oleh peserta untuk MELATIH DIRI dalam merubah "tindakan/perilaku/perbuatan",
sehingga hasil yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi dari MELATIH DIRI
tersebut adalah perubahan "tindakan/perilaku/perbuatan" karena perubahan pola-pikir
yang “SELALU MENGARAH KE TUJUAN (OBJEKTIF)" atau yang kami namakan
pola-pikir “ANALITIS-OBJEKTIF”, yaitu pola-pikir tentang hal-hal yang mendasar
sebagai berikut:
a. PERBEDAAN antara TUJUAN dengan KEGUNAAN, yaitu:
(1) TUJUAN (OBJECTIVE) adalah arah yang dijadikan pedoman tentang hasil
yang akan diperoleh dalam melakukan setiap perbuatan/upaya (something
toward which effort is directed).
(2) KEGUNAAN (ADVANTAGE) adalah hasil yang akan diperoleh dalam
melakukan suatu perbuatan berdasarkan kondisi pada saat dan tempat tertentu
(superiority of position or condition).
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa TUJUAN LEBIH PENTING
DARI KEGUNAAN;
(b) HANYA mengambil suatu KEGUNAAN YANG SESUAI DENGAN
TUJUAN.
b. PERBEDAAN antara PENALARAN dengan KEINGINAN, yaitu:
(1) PENALARAN adalah proses “mengerti bahwa mengerti” karena
MENGGUNAKAN AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH, yaitu
AKAL/PIKIRAN/LOGIKA yang ditunjang oleh HATI-NURANI (KALBU).
(2) KEINGINAN adalah proses “tidak mengerti bahwa tidak mengerti” karena
AKAL/PIKIRAN/LOGIKA TELAH DIPENGARUHI oleh rasa
SUKA/TIDAK-SUKA.
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa KEINGINAN BELUM
TENTU SESUAI DENGAN TUJUAN;
(b) HANYA akan memenuhi KEINGINAN BILA BERDASARKAN
PENALARAN TELAH SESUAI DENGAN TUJUAN.
c. PERBEDAAN antara SUBJEKTIF dengan OBJEKTIF, yaitu:
(1) SUBJEKTIF adalah kesimpulan tentang tindakan/perbuatan yang akan
dilakukan berdasarkan pendapat (OPINI) yang timbul dari hal-hal yang
disukai/tidak-disukai dari suatu objek yang sedang diperlakukan.
) Terdaftar di Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, D 1 esain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan
Rahasia Dagang, DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL,
DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA, No.025380 tanggal 28 Januari
2003, atas nama PT. Tatabisnis Usaha Globalisia
(2) OBJEKTIF adalah kesimpulan tentang tindakan/perbuatan yang akan
dilakukan berdasarkan hubungan logika antara kenyataan (FAKTA) yang
terlihat pada semua objek yang sedang diperlakukan.
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa SETIAP PENDAPAT (OPINI)
BELUM TENTU BENAR, termasuk pendapat (opini) sendiri;
(b) HANYA akan bertindak/berbuat berdasarkan FAKTA.
D. Padanan kata dari “BISNIS” adalah “URUSAN” sehingga “PENDIDIKAN BISNIS” dapat
disebut “PENDIDIKAN UNTUK SEGALA URUSAN”, yaitu mulai dari mengurus diri
sendiri, mengurus rumah-tangga, mengurus usaha/perusahaan sampai mengurus bangsa dan
negara.
IV. TUGAS SEORANG ASSOCIATE
A. Tugas pokok seorang Associate dalam “M. A. Dani & Associates” adalah MENYEBARLUASKAN
SECARA KOMERSIAL “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis”1), sehingga untuk itu seorang Calon Associates:
1. HARUS TERLEBIH DAHULU MENGIKUTI Pendidikan & Pelatihan“Sistematika
Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis” agar mempunyai
pemahaman yang sama (close in mind) dan dapat MENGHAYATI
(bertindak/berperilaku berdasarkan) POLA-PIKIR “ANALITIS-OBJEKTIF” yang
terkandung didalamnya.
2. IKUT menjadi fasilitator di tempat penyelenggaraan Pendidikan & Pelatihan
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis” yang
ada pada setiap hari Sabtu dan Minggu dan menjadi tenaga Konsultan yang
melaksanakan jasa konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis” dalam Proyek Konsultansi yang ada, serta untuk itu
MEMPEROLEH kompensasi yang diatur dengan “Merit System” tertentu yang berlaku
di “M. A. Dani & Associates”;
3. HARUS MENGHADIRI “Pertemuan Associates” yang diadakan oleh Direktur “M.
A. Dani & Associates” hari dan tempat tertentu untuk membicarakan segala
permasalahan yang menyangkut teknis penyelenggaraan/pelaksanaan jasa Pendidikan
& Pelatihan dan Konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis”;
4. DIKUKUHKAN menjadi Associates dalam suatu “Pertemuan Associates” berdasarkan
penilaian oleh Direktur “M. A. Dani & Associates” setelah mengikuti beberapa kali
“Pertemuan Associates”, dengan menyerahkan LISENSI untuk menyelenggarakan jasa
Pendidikan & Pelatihan dan Konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)
dengan Pendekatan Proses Bisnis” di territori yang akan ditentukan sendiri.
B. Pada gilirannya seorang Associate akan menjadi seorang Pengusaha (Business-Owner), yaitu
mampu MEMBANGUN/MENYUSUN suatu "SISTEM BISNIS" sendiri dan kemudian
menyerahkan kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN
serta TENAGA PROFESIONAL lainnya) yang diperlukan untuk melaksanakannya;
C. Dengan memperoleh LISENSI, maka sambil menjalankan usaha lainnya, seorang Associate
telah dapat MENYELENGGARAKAN/MELAKSANAKAN SENDIRI jasa Pendidikan
& Pelatihan dan Konsultansi“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan
Proses Bisnis” SECARA KOMERSIAL berdasarkan syarat dan kondisi yang tercantum
dalam LISENSI, antara lain tentang ROYALTY yang harus disetorkan ke Rekening PT.
Tatabisnis Usaha Globalisia.
V. Persyaratan menjadi Calon “Associate” di “M. A. Dani & Associates” adalah:
A. Sehat akal/pikiran, jasmani dan rohani, serta “open minded” (tidak langsung
menyalahkan, tapi menganggap pikiran orang lain MUNGKIN ADA BENARNYA sehingga
dapat diterima);
B. BERMINAT menjadi “Pengusaha”, dengan pengertian:
1. Menjadi Pengusaha berarti memasuki “dunia usaha” yang berbeda dengan “dunia
bekerja”, yaitu bahwa “Alam pemikiran” di “dunia bekerja” lebih terfokus kepada
“cara mengerjakan sesuatu (how to do)” sedangkan “alam pemikiran” di “dunia usaha”
lebih terfokus kepada “apa yang akan dikerjakan (what to do)”.
2. Menjadi Pengusaha bukan untuk bekerja untuk orang lain (sebagai pegawai) atau untuk
mempekerjakan diri sendiri (sebagai profesional) atau hanya menyerahkan modal
kepada orang lain untuk menjalankan usaha (sebagai investor), akan tetapi menjadi
Pengusaha adalah MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA UNTUK ORANG LAIN.
C. TIDAK MINTA DIAJARI tentang segala sesuatu yang menyangkut “usaha yang akan
dijalankan” dan “cara menjalankannya”, dengan pengertian bahwa:
1. Pada dasarnya menjalankan usaha (bisnis) itu “tidak ada sekolahnya”, sehingga dalam
“Pendidikan Bisnis” TIDAK ADA GURU yang akan mengajarkan kepada peserta
tentang “usaha yang akan dijalankan” dan “cara menjalankannya”.
2. “Pendidikan Bisnis” diselenggarakan atas prinsip “ALAM TERKEMBANG JADI
GURU”, sehingga:
a. Peserta TIDAK DIAJARI tapi HARUS MENEMUKAN DAN MEMPELAJARI
SENDIRI “usaha yang akan dijalankan” dan “cara menjalankannya” dari
POTENSI EKONOMI yang terlihat di “alam terkembang” ini.
b. Penyelenggara (fasilitator) hanya memberikan/menanamkan POLA-PIKIR yang
kami namakan POLA-PIKIR ANALITIS-OBJEKTIF yang terkandung dalam
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”.
D. KONSEKWEN dengan tujuan menjadi “Pengusaha”, dengan pengertian:
a. Konsekwen untuk TIDAK MENJADI PEGAWAI atau untuk TIDAK MENJADI
PROFESIONAL atau untuk TIDAK HANYA MENJADI INVESTOR;
b. SELALU MENGARAH KE TUJUAN MENJADI “PENGUSAHA” , yaituuntuk
MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA untuk orang lain dalam bentuk “Sistem
Bisnis”.
c. Konsekwen bahwa sebagai Pengusaha TIDAK HARUS BISA PAMER
KEHIDUPAN YANG MEWAH, bahkan ada kemungkinan pada awal
mengembangkan “Sistem Bisnis” belum dapat memperoleh penghasilan sama sekali
dan selanjutnya tetap konsekwen bahwa kalau perlu HIDUP SESEDERHANA
MUNGKIN supaya penghasilan yang telah diperoleh dari “Sistem Bisnis” yang ada
DAPAT DIGUNAKAN KEMBALI UNTUK MEMBANGUN “SISTEM
BISNIS” YANG LAIN.
E. KONSISTEN dengan pola-pikir “Analitis-Objektif”, yaitu konsisten dengan pola-pikir
yang terkandung dalam “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan
Proses Bisnis” dalam bersikap/berperilaku sehari-hari.
Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI dalam upaya menumbuhkan Pengusaha
(Business Owner) di negara ini dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI
PENDIDIKAN BISNIS", silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk
membicarakan kemungkinan dapat bergabung menjadi Associate.
***
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan & Pelatihan Manajemen Bisnis (Business Management Consultancy & Education/Training
Services)
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541, E-mail muchtid@cbn.net.id
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN
BISNIS"
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
I. “M. A. Dani & Associates”
A. “M. A. Dani & Associates” adalah sekelompok anggota masyarakat yang independen (nonpolitik)
yang melakukan kegiatan untuk BERBUAT NYATA dalam rangka PERBAIKAN
“NASIB BANGSA” MELALUI “PENDIDIKAN BISNIS”.
B. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara legal, kelompok ini bernaung dibawah badan
hukum berbentuk Perseroan Terbatas dengan nama “PT. Tatabisnis Usaha Globalisia”.
II. PERBAIKAN “NASIB BANGSA”
A. Perbaikan “nasib bangsa” adalah perbaikan untuk menjadikan “kehidupan berbangsa dan
bernegara” pada hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari
ini, sedangkan yang digunakan sebagai ukuran “lebih baik” adalah “kondisi perekonomian”
tanpa mengabaikan hal lainnya yang dapat dan perlu digunakan sebagai “ukuran”.
B. TULANG PUNGGUNG PEREKONOMIAN setiap negara pada kenyataannya adalah
“PENGUSAHA (BUSINESS OWNER)” yang membangun/menyusun suatu "SISTEM
BISNIS" berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian
menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang
MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk
melaksanakannya, dengan pengertian:
1. "POTENSI EKONOMI' adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK
USAHA untuk menghasilkan suatu "PRODUK", sedangkan "PRODUK" adalah barang
atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2. Setiap "SISTEM BISNIS" merupakan RANGKAIAN KEGIATAN (what to do) dalam
suatu "Proses Bisnis" yang terpadu, sehingga penyusunan suatu "SISTEM BISNIS"
tidak lain adalah PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA bagi para TENAGA
PROFESIONAL dan kemudian TENAGA PROFESIONAL yang akan menentukan
CARA MELAKSANAKAN (how to do) KEGIATAN yang bersangkutan yang sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada.
3. Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun "SISTEM BISNIS";
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL) yang akan
menjalankan "SISTEM BISNIS", sehingga masih mempekerjakan diri sendiri
(self-employed);
d. "SISTEM BISNIS" yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam
bentuk pendapatan/uang.
C. Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang TIDAK MENDUKUNG untuk
menumbuhkan PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) yang dimaksud diatas, sehingga
diperlukan lagi Sistem "Pendidikan" (dalam tanda kutip) yang lain yang kami namakan
Sistem "Pendidikan Bisnis".
III. “PENDIDIKAN BISNIS”
A. "PENDIDIKAN BISNIS" adalah "pendidikan" tentang "akal-sehat/pikiran-jernih" yang
akan membentuk "pola-pikir" dan yang selanjutnya akan menentukan/mempengaruhi
"tindakan/perilaku/perbuatan", sedangkan "akal-sehat/pikiran-jernih" adalah
AKAL/PIKIRAN/NALAR/LOGIKA yang tidak dipengaruhi oleh KEINGINAN, akan
tetapi ditunjang oleh KALBU/HATI-NURANI.
B. "Akal-sehat/pikiran-jernih", "pola-pikir" dan "tindakan/perilaku/perbuatan" BUKAN
merupakan "ilmu pengetahuan atau keterampilan" atau “mata pelajaran” seperti yang
diajarkan dalam Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang (dari sekolah
dasar sampai perguruan tinggi, termasuk kursus/training/workshop), sehingga
"PENDIDIKAN BISNIS" disebut "Pendidikan" (dalam tanda kutip) oleh karena BUKAN
SEKOLAH seperti dalam Sistem Pendidikan Nasional.
C. PEMBICARAAN seseorang adalah merupakan EKSPRESI dari "pola-pikir" dari orang
yang bersangkutan, sehingga termasuk "tindakan/perilaku/perbuatan" dari orang yang
bersangkutan dan atas dasar kaidah tersebut maka:
1. "Pendidikan Bisnis" yang diselenggarakan oleh "M. A. Dani & Assosiates" adalah
berupa PEMBICARAAN DENGAN PESERTA "PENDIDIKAN" dalam pertemuan
mingguan selama 2 jam, dalam rangka untuk menanamkan "pola-pikir" yang akan
merubah "tindakan/perilaku/perbuatan" tentang topik-topik yang berhubungan dengan
"akal-sehat/pikiran-jernih", antara lain kaidah bawa: "Sudut-pandang akan
menentukan pola-pikir, sedangkan pola pikir akan menentukan perilaku" sehingga:
a. Bila seseorang melihat suatu usaha (bisnis) sebagai tempat bekerja maka pola-pikir
orang yang bersangkutan akan menjadi pola-pikir seorang pegawai/profesional
yang terfokus kepada pemikiran tentang "bagaimana mengerjakannya (how to
do)" dan perilaku orang yang bersangkutan akan terpusat pada "mempekerjakan
diri sendiri (self-employed)", sedangkan pemikiran tentang "bagaimana
mengerjakannya (how to do)" lebih banyak didasarkan kepada "keinginan (want)
mengerjakan sesuatu", sehingga sedikit-banyaknya berbeda bagi setiap orang
sesuai pendapat/opini masing-masing (subjektif).
b. Bila seseorang melihat suatu usaha (bisnis) sebagai tempat berlangsungnya
"proses-bisnis" maka pola-pikir orang yang bersangkutan akan menjadi pola-pikir
seorang pengusaha (business-owner) yang terfokus kepada pemikiran tentang
"kegiatan apa yang akan dilakukan (what to do)" dan perilaku orang yang
bersangkutan akan terpusat pada "mempekerjakan orang lain (employment)",
dengan kata lain akan menyediakan lapangan kerja untuk orang lain, sedangkan
pemikiran tentang "kegiatan apa yang akan dilakukan (what to do)" lebih
didasarkan kepada "keperluan (need) melakukan/mengerjakan sesuatu", sehingga
hampir dapat dikatakan sama bagi setiap orang sesuai fakta yang terlihat dari sudut
pandang yang sama (objektif).
c. Setiap orang pada dasarnya berperilaku subjektif, namun bila ingin menjalankan
suatu usaha (bisnis) harus diimbangi dengan perilaku objektif..
2. Waktu yang selebihnya dari 2 jam dalam seminggu tersebut HARUS digunakan sendiri
oleh peserta untuk MELATIH DIRI dalam merubah "tindakan/perilaku/perbuatan",
sehingga hasil yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi dari MELATIH DIRI
tersebut adalah perubahan "tindakan/perilaku/perbuatan" karena perubahan pola-pikir
yang “SELALU MENGARAH KE TUJUAN (OBJEKTIF)" atau yang kami namakan
pola-pikir “ANALITIS-OBJEKTIF”, yaitu pola-pikir tentang hal-hal yang mendasar
sebagai berikut:
a. PERBEDAAN antara TUJUAN dengan KEGUNAAN, yaitu:
(1) TUJUAN (OBJECTIVE) adalah arah yang dijadikan pedoman tentang hasil
yang akan diperoleh dalam melakukan setiap perbuatan/upaya (something
toward which effort is directed).
(2) KEGUNAAN (ADVANTAGE) adalah hasil yang akan diperoleh dalam
melakukan suatu perbuatan berdasarkan kondisi pada saat dan tempat tertentu
(superiority of position or condition).
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa TUJUAN LEBIH PENTING
DARI KEGUNAAN;
(b) HANYA mengambil suatu KEGUNAAN YANG SESUAI DENGAN
TUJUAN.
b. PERBEDAAN antara PENALARAN dengan KEINGINAN, yaitu:
(1) PENALARAN adalah proses “mengerti bahwa mengerti” karena
MENGGUNAKAN AKAL-SEHAT/PIKIRAN-JERNIH, yaitu
AKAL/PIKIRAN/LOGIKA yang ditunjang oleh HATI-NURANI (KALBU).
(2) KEINGINAN adalah proses “tidak mengerti bahwa tidak mengerti” karena
AKAL/PIKIRAN/LOGIKA TELAH DIPENGARUHI oleh rasa
SUKA/TIDAK-SUKA.
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa KEINGINAN BELUM
TENTU SESUAI DENGAN TUJUAN;
(b) HANYA akan memenuhi KEINGINAN BILA BERDASARKAN
PENALARAN TELAH SESUAI DENGAN TUJUAN.
c. PERBEDAAN antara SUBJEKTIF dengan OBJEKTIF, yaitu:
(1) SUBJEKTIF adalah kesimpulan tentang tindakan/perbuatan yang akan
dilakukan berdasarkan pendapat (OPINI) yang timbul dari hal-hal yang
disukai/tidak-disukai dari suatu objek yang sedang diperlakukan.
) Terdaftar di Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, D 1 esain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan
Rahasia Dagang, DIREKTUR JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL,
DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA, No.025380 tanggal 28 Januari
2003, atas nama PT. Tatabisnis Usaha Globalisia
(2) OBJEKTIF adalah kesimpulan tentang tindakan/perbuatan yang akan
dilakukan berdasarkan hubungan logika antara kenyataan (FAKTA) yang
terlihat pada semua objek yang sedang diperlakukan.
(3) SEHINGGA dalam bertindak/berperilaku:
(a) MEMEGANG TEGUH PRINSIP bahwa SETIAP PENDAPAT (OPINI)
BELUM TENTU BENAR, termasuk pendapat (opini) sendiri;
(b) HANYA akan bertindak/berbuat berdasarkan FAKTA.
D. Padanan kata dari “BISNIS” adalah “URUSAN” sehingga “PENDIDIKAN BISNIS” dapat
disebut “PENDIDIKAN UNTUK SEGALA URUSAN”, yaitu mulai dari mengurus diri
sendiri, mengurus rumah-tangga, mengurus usaha/perusahaan sampai mengurus bangsa dan
negara.
IV. TUGAS SEORANG ASSOCIATE
A. Tugas pokok seorang Associate dalam “M. A. Dani & Associates” adalah MENYEBARLUASKAN
SECARA KOMERSIAL “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis”1), sehingga untuk itu seorang Calon Associates:
1. HARUS TERLEBIH DAHULU MENGIKUTI Pendidikan & Pelatihan“Sistematika
Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis” agar mempunyai
pemahaman yang sama (close in mind) dan dapat MENGHAYATI
(bertindak/berperilaku berdasarkan) POLA-PIKIR “ANALITIS-OBJEKTIF” yang
terkandung didalamnya.
2. IKUT menjadi fasilitator di tempat penyelenggaraan Pendidikan & Pelatihan
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis” yang
ada pada setiap hari Sabtu dan Minggu dan menjadi tenaga Konsultan yang
melaksanakan jasa konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis” dalam Proyek Konsultansi yang ada, serta untuk itu
MEMPEROLEH kompensasi yang diatur dengan “Merit System” tertentu yang berlaku
di “M. A. Dani & Associates”;
3. HARUS MENGHADIRI “Pertemuan Associates” yang diadakan oleh Direktur “M.
A. Dani & Associates” hari dan tempat tertentu untuk membicarakan segala
permasalahan yang menyangkut teknis penyelenggaraan/pelaksanaan jasa Pendidikan
& Pelatihan dan Konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan
Pendekatan Proses Bisnis”;
4. DIKUKUHKAN menjadi Associates dalam suatu “Pertemuan Associates” berdasarkan
penilaian oleh Direktur “M. A. Dani & Associates” setelah mengikuti beberapa kali
“Pertemuan Associates”, dengan menyerahkan LISENSI untuk menyelenggarakan jasa
Pendidikan & Pelatihan dan Konsultansi “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis)
dengan Pendekatan Proses Bisnis” di territori yang akan ditentukan sendiri.
B. Pada gilirannya seorang Associate akan menjadi seorang Pengusaha (Business-Owner), yaitu
mampu MEMBANGUN/MENYUSUN suatu "SISTEM BISNIS" sendiri dan kemudian
menyerahkan kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN
serta TENAGA PROFESIONAL lainnya) yang diperlukan untuk melaksanakannya;
C. Dengan memperoleh LISENSI, maka sambil menjalankan usaha lainnya, seorang Associate
telah dapat MENYELENGGARAKAN/MELAKSANAKAN SENDIRI jasa Pendidikan
& Pelatihan dan Konsultansi“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan
Proses Bisnis” SECARA KOMERSIAL berdasarkan syarat dan kondisi yang tercantum
dalam LISENSI, antara lain tentang ROYALTY yang harus disetorkan ke Rekening PT.
Tatabisnis Usaha Globalisia.
V. Persyaratan menjadi Calon “Associate” di “M. A. Dani & Associates” adalah:
A. Sehat akal/pikiran, jasmani dan rohani, serta “open minded” (tidak langsung
menyalahkan, tapi menganggap pikiran orang lain MUNGKIN ADA BENARNYA sehingga
dapat diterima);
B. BERMINAT menjadi “Pengusaha”, dengan pengertian:
1. Menjadi Pengusaha berarti memasuki “dunia usaha” yang berbeda dengan “dunia
bekerja”, yaitu bahwa “Alam pemikiran” di “dunia bekerja” lebih terfokus kepada
“cara mengerjakan sesuatu (how to do)” sedangkan “alam pemikiran” di “dunia usaha”
lebih terfokus kepada “apa yang akan dikerjakan (what to do)”.
2. Menjadi Pengusaha bukan untuk bekerja untuk orang lain (sebagai pegawai) atau untuk
mempekerjakan diri sendiri (sebagai profesional) atau hanya menyerahkan modal
kepada orang lain untuk menjalankan usaha (sebagai investor), akan tetapi menjadi
Pengusaha adalah MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA UNTUK ORANG LAIN.
C. TIDAK MINTA DIAJARI tentang segala sesuatu yang menyangkut “usaha yang akan
dijalankan” dan “cara menjalankannya”, dengan pengertian bahwa:
1. Pada dasarnya menjalankan usaha (bisnis) itu “tidak ada sekolahnya”, sehingga dalam
“Pendidikan Bisnis” TIDAK ADA GURU yang akan mengajarkan kepada peserta
tentang “usaha yang akan dijalankan” dan “cara menjalankannya”.
2. “Pendidikan Bisnis” diselenggarakan atas prinsip “ALAM TERKEMBANG JADI
GURU”, sehingga:
a. Peserta TIDAK DIAJARI tapi HARUS MENEMUKAN DAN MEMPELAJARI
SENDIRI “usaha yang akan dijalankan” dan “cara menjalankannya” dari
POTENSI EKONOMI yang terlihat di “alam terkembang” ini.
b. Penyelenggara (fasilitator) hanya memberikan/menanamkan POLA-PIKIR yang
kami namakan POLA-PIKIR ANALITIS-OBJEKTIF yang terkandung dalam
“Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan Proses Bisnis”.
D. KONSEKWEN dengan tujuan menjadi “Pengusaha”, dengan pengertian:
a. Konsekwen untuk TIDAK MENJADI PEGAWAI atau untuk TIDAK MENJADI
PROFESIONAL atau untuk TIDAK HANYA MENJADI INVESTOR;
b. SELALU MENGARAH KE TUJUAN MENJADI “PENGUSAHA” , yaituuntuk
MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA untuk orang lain dalam bentuk “Sistem
Bisnis”.
c. Konsekwen bahwa sebagai Pengusaha TIDAK HARUS BISA PAMER
KEHIDUPAN YANG MEWAH, bahkan ada kemungkinan pada awal
mengembangkan “Sistem Bisnis” belum dapat memperoleh penghasilan sama sekali
dan selanjutnya tetap konsekwen bahwa kalau perlu HIDUP SESEDERHANA
MUNGKIN supaya penghasilan yang telah diperoleh dari “Sistem Bisnis” yang ada
DAPAT DIGUNAKAN KEMBALI UNTUK MEMBANGUN “SISTEM
BISNIS” YANG LAIN.
E. KONSISTEN dengan pola-pikir “Analitis-Objektif”, yaitu konsisten dengan pola-pikir
yang terkandung dalam “Sistematika Menjalankan Usaha (Bisnis) dengan Pendekatan
Proses Bisnis” dalam bersikap/berperilaku sehari-hari.
Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI dalam upaya menumbuhkan Pengusaha
(Business Owner) di negara ini dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI
PENDIDIKAN BISNIS", silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami, untuk
membicarakan kemungkinan dapat bergabung menjadi Associate.
***
M. A. Dani & Associates
(PT. Tatabisnis Usaha Globalisia)
Jasa Konsultansi dan Pendidikan & Pelatihan Manajemen Bisnis (Business Management Consultancy & Education/Training
Services)
Jl. Kp. Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Jakarta Selatan, JAKARTA 12840.
Tel: (021)8303541, E-mail muchtid@cbn.net.id
BERBUAT NYATA dalam rangka "PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN
BISNIS"
Langganan:
Postingan (Atom)